Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   

Sosok Inspiratif

Intan Dituntut Multi Talenta

TERJUN ke dunia panggung hiburan zaman sekarang ini tak melulu mengandalkan para ayu dan tubuh aduhai. Sekali kelebihan yang diber...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

SUARA MERDEKA SOLO

SILAHKAN PESAN/ORDER

SILAHKAN PESAN/ORDER

Follow by Email

SILAHKAN KUNJUNGI SITUS KAMI

Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

Ini Alasan Gatsu Solo Bisa Saingi Malioboro Jogja


SOLO,wartosolo.com-Saat ini kawasan Malioboro Yogyakarta sudah menjelma sebagai kawasan yang amat ramah terhadap pejalan kaki. Pedestriannya dibuat lebar dan memanjang dari utara (dekat Stasiun Tugu) hingga ke selatan (Kantor Pos Besar). Lampu-lampu dibuat terang benderang pada malam hari, dan tak ada satu pun kendaraan roda dua dan empat parkir di pedestrian. Seluruh kendaraan diparkir di tempat yang tersedia. 


gatsu-solo-jogja
Lokasi pejalan kaki
 Di sepanjang Malioboro, tepat pejalan kaki beristirahat tersedia cukup banyak, ada kursi-kursi permanen, taman kecil yang dibangun untuk memanjakan pejalan kaki. Khusus pedagang kaki lima, alat angkutan tradisional seperti becak, andong tetap diberikan tempat khusus di bahu kanan jalan. Bayangan Malioboro bak pedestrian ala kota-kota besar di luar negeri sudah di depan mata dan tinggal dipertahankan lalu dipoles sedikit-sedikit. Nah, lalu bagaimana dengan kota tetangga Yogyakarta, yakni Kota Solo ? Bagi Solo sendiri, pembangunan pedestrian yang amat memanjakan pejalan kaki sedikit terlambat di bandingkan Kota Gudeg. Saat ini proyek yang dikerjakan Pemkot Surakarta baru tahapan desain dan penataan pedestrian yang dipusatkan di Jalan Gatot Subroto (Gatsu). Prosesnya yang cukup lama, (dimulai dari Agustus 2016) sampai sekarang baru memasuki penataan dan pembersihan jaringan kabel, telepon, PLN dan penataan parkir. Atau masih jauh bila dibandingkan dengan yang sudah jalan di Maliboro sana.
jogja - gatsu-solo
Area pejalan kaki
Hanya saja, ada satu keistimewaan yang bakal diciptakan dari kawasan yang disebut Koridor Gatot Subroto (Gatsu) ini dibandingkan dengan kawasan serupa di Malioboro. Koridor Gatsu setelah purna-proyek kelak, bakal lebih memanjang, dimulai dari depan Pura Mangkunegaran- Kawasan Singosaren-Coyudan-hingga Keraton Surakarta. Bentuknya yang mirip letter L ini memberikan variasi bagi pejalan kaki yang akan memulai perjalanan. Itu pont pertama ! Kedua, kalau tidak salah di sepanjang Gatsu, para pejalan kaki jelas akan dimanjakan pemandangan perkotaan yang modern seperti pusat perbelanjaan lebih besar, perkantoran, perhotelan, dipadupadankan dengan desaiin kota yang bernuansa Jawa. Dan ketiga, seandainya dinas tata ruang kota setempat cerdas dalam melakukan dekorasi kawasan ini, maka Koridor Gatsu akan lebih menawan bila diterangi lampu warna-warni, lokasi berselfie ria, dan sejumlah pemandangan lainnya ala kota besar di luar negeri, seperti Seol (Korsel) Tokyo (Jepang) dan Singapura. Kelengkapan-kelengkapan semacam ini yang kelak bakal mengalahkan Maliboro bila dipenuhi secara massiv oleh stakeholder. Dan yang keempat adalah keuntungan, kawasan Gatsu yang terletak di jantung Kota Bengawan ini pada malam hari tak ada masalah dengan kemacetan. Berbeda dengan Maliboro, pada malam hari dan bersamaan dengan puncak liburan. Kemacetan di mana-mana dan penuh sesak. Berbeda halnya dengan keberadaan Gatsu, dimana lokasi parkir baik kendaraan roda empat dan roda dua tersedia di mana-mana. So, dari sekian banyak argumentasi itu apakah akan mulus diaplikasikan di lapangan ? Jelas, setiap lapisan masyarakat bisa mengamati dan menyaksikan mulai dari sekarang. Banyak media yang bisa dimanfaatkan mulai dri media massa cetak, elektronik, media sosial atau wahana lain.
Intinya, Pemerintah Kota Surakarta sudah mencium akan keunggulan Koridor Gatsu, tinggal bagaimana tahapan-tahapannya dimulai dan diakhir dengan baik. Lalu masyarakat dan pelaku di lapangan bisa mengelolanya agar bisa sejajar dengan Maliboro. Allahualam ! ((*/)

Mau Saingi Malioboro Jogja ? Gatsu Solo Harus Patuhi Syarat ini


SOLO,wartosolo.com-Kawasan Malioboro Yogyakarta menjadi salah satu tolok ukur kota-kota di Indonesia dalam membangun pedestrian di pusat kota. Sebagai salah satu daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara, Malioboro benar-benar ditata sedemikian rupa sehingga nyaman disinggahi wisatawan selama berjam-jam. Jujur saja tak semudah membalikan tangan bagi Pemkot Yogyakarta mengatur ikon penting tersebut. Bisa dilihat secara kasata mata betapa besar, biaya, tenaga dan pikiran yang dihabiskan untuk membangun kawasan ikonik itu. Maka tak heran bila kota-kota besar di Indonesia, mengidam-idamkan punya pusat kota selevel Malioboro. Nah, salah satu kota yang memakai acuan dengan berakca dari Malioboro untuk menata pedestriannya adalah Kota Surakarta.


solo-jogja-pejalan kaki
Pedestrian Maliboro Jogja
 Dua dari sekian persyaratan utama yang sudah dipenuhi Solo dalam menyiapkan pedestrian dambaan adalah, tersedianya tempat (pedestrian), dan dana (uang). Pertama sekali yang perlu dibahas adalah tempat pedestrian. Di Solo saat sedang giat-giatnya membangun kawasan Jalan Gatot Subroto, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Radjiman sebagai satu kawasan pedestrian yang diberi nama Kordior Gatot Subroto (Gatsu). Dinas terkait dan jajaran samping sudah melakukan pengerjaan awal Gatsu. Dengan demikian persyaratan tempat sudah tidak menjadi Kedua adalah anggaran, menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Surakarta, Endah Sitaresmi Suryandari, proyek penataan Gatsu didanai mencapai Rp 15 miliar menyasar pembangunan kawasan pedestrian, Untuk tahap awal terlebih dahulu akan dilakukan pembersihan trotoar di kawasan tersebut. Baru setelah itu dilakukan penggalian saluran air yang sudah direncanakan.
 Dari pernyataan Kepala DPU tadi, masalah anggaran juga tidak menjadi kendala besar. Pasalnya, anggaran terbesar yakni penataan awal sudah tidak ada penghambatnya, kas di Pemprov Jateng, dan Pemkot Surakarta sudah mencukupi. Kira-kira syarat apa yang harus dipenuhi agar Gatsu bisa sejajar dengan Malioboro ? Menurut analisa penulis, adalah pekerjaan yang teramat sulit bagi stakeholder mulai dari masyarakat lapisan bawah, pemerintah, media massa, dan komponen lainnya di Solo untuk menyejajarkan Gatsu dengan Maliboro. Perlu diketahu, Malioboro sudah melegenda sejak puluhan tahun dan sudah menjadi roh Kota Pelajar. Hingga mencuat sebuah meme terkenal seperti demikian, "Tak lengkap ke Jogja bila tidak mampir ke Maliboro". Meme sederhana inilah yang kemudian menyebar berubah menjadi semacam virus dan membentuk persepsi di otak rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bahwa suatu ketika menginjakkan kaki di tanah Jawa untuk berikutnya menginjak kedua kakinya di Maliboro. Nah, tentu saja, meme semacam itulah yang memperkuat cap Maliboro sebagai tujuan wajib bagi wisatawan. Hingga akhirnya cap tersebut terus membekas, abadi dan tentu saja secara jangka panjang eksesnya amat menguntungkan wisata di Yogyakarta. 
 Lalu pertanyaanya, apakah Solo yang sedang membangun Koridor Gatsu ke depan bisa berlaku setara dengan Maliboro ? Tentu saja jawabannya, BISA ! Asalkan, dilakukan sungguh-sungguh secara bersama-sama, terus menerus dan konsisten menyampaikan meme yang hampir sama. Nah, syarat terakhir inilah yang amat berat, dan banyak kota-kota besar di Indonesia tidak mampu memenuhinya. Dan Smoga saja di Solo BISA ! (*/)

Gatsu Bakal Jadi Pedestrian Terkenal di Solo

 
SOLO,wartosolo.com-Penataan kawasan Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Kota Solo yang dimulai Agustus 2016 merupakan satu dari sekian proyek yang diandalkan Pemerintah FX Hadi Rudyatmo-Achmad Purnomo. Proyek penataan kawasan di jantung Kota Solo ini menititikberatkan pada pengaturan jalan besar, pedestrian, street furniture, pembenahan drainase, serta penataan ulang jaringan listrik dan telepon. Tak tanggung tanggung anggaran senilai Rp 15 miliar dipersiapkan untuk menyukseskan proyek fisik ini. Lalu apa sih yang menjadi keistimewaan dari pembangunan koridor yang menghubungkan antara Pura Mangkunegaran, Jalan Gatot Subroto dan pusat bisnis Coyudan di sepanjanag Jalan Radjiman ini ? Bila dilihat dari letak geografisnya, kawasan di koridor Gatsu ini jelas terletak di pusat kota berjuluk Bengawan. Diapit Jalan Slamet Riyadi dan Jalan Gatot Subroto, kawasan ini jauh dari sepi. Mengingat di pusat kota, jelas di situ bertebaran pusat bisnis, restoran, hotel, perkantoran, perbankan, perdagangan, sekolah, pasar, dan lain sebagaianya. Sebelum dijadikan proyek penataan kota jujur saja, kawasan ini terbilang semrawut. 
Lalu lintasnya padat dan perparkiran sering sekali memakan badan jalan. Kawasan ini masuk dalam daftar yang masuk berpotensi macet pada hari sibuk dan liburan. Di sepanjang ruas jalan ini berdiri pula pedagang kaki lima (PKL). Lapak-lapak mereka menghiasi jalan searah yang memiliki luas tak lebih dari enam meter. Cukup komplit-kan. Atas masukan berbagai pihak dan tentu saja seiring dengan misi visi duet FX Hadi Rudyatmo dan Achmad Purnomo. Koridor Gatsu ini mulai ditata sedemikian rupa pada pertengahan 2016. Alasannya jelas, setelah ditata maka area ini ramah terhadap lingkungan, dan tentu saja nyaman dikunjungi.
 Gatsu Bakal Jadi Pedestrian Terkenal2
Pedestrian Solo

Nah, apakah konsepnya akan mengikuti objek wisata terkenal seperti Malioboro Yogyakarta, atau kawasan pusat kota di Bandung Jawa Barat ? Konsep dasarnya memang seperti itu ! Menurut Kepala Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Pemkot Surakarta, Agus Djoko Witiarso konsep penataan koridor Jalan Gatot Subroto (Gatsu) nantinya akan disulap seperti Malioboro, Yogyakarta. Penataan ini sekaligus membuka pintu kawasan segitiga budaya meliputi Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran dan Pasar Gede. “Konsep penataan koridor Gatsu sama seperti penataan kawasan Ngarsopura maupun Pasar Gede,” kata dia. Nah, sekali lagi patut ditunggu, apakah hasil akhirnya seperti apa yang dikatakan kepala DTRK Pemkot Surakarta di atas ? (*/)

Kehadiran Sepur Uap Solo, Tantangan Baru Sektor Pariwisata Surakarta



SOLO,wartosolo.com-Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta berhasil mendatangkan lokomotif kereta uap dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta ke Kota Solo. Setelah melalui perjalanan panjang melintasi sejumlah provinsi, Kamis, 17 November 2016 pagi, kereta kuno itu langsung ditampung di Depo Stasiun Balapan milik Daop VI Yogyakarta. 
Kehadiran kereta api kuno itu langsung mendapatkan respons beraneka ragam dari khalayak umum. Media massa lokal, regional dan nasional langsung mengabadikan momentum langka ini. Sejumlah pejabat publik dan operator kereta api di hadapan media memperkenalkan alat transportasi ini dan menyampaikan maksud kepindahan kereta ini ke Solo. 


kereta uap solo, tantangan pariwisata Surakarta2
Kereta uap terbaru
Sepintas memang ada angin segar, bahwa Solo kembali memiliki ikon keren, yakni satu-satunya kota di Indonesia yang bakal menjalankan kereta berusia ratusan itu. Sekilas, kehadiran kereta api bakal meroketkan nama Kota Bengawan sebagai salah satu kota paling inovatif dengan menjalankan kereta api itu melintasi jalanan kota.
Terlepas dari euforia tersebut, tahukah anda, bahwa ada sejumlah pertanyaan yang sepatasnya segera dijawab sebelum KA ini beroperasi menyapa warga Solo. 

 tantangan pariwisata Surakarta kereta uap solo
Proses evakuasi loko
Bila benar, sepur ini ditujukan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke kota kelahiran Presiden Joko Widodo, seberapa besar wisatawan akan masuk dan memberikan multiplier effect terhadap pelaku wisata khususnya masyarakat Solo ? 

Tantangan 

Pertanyaan berikutnya, apakah mampu kas daerah ini membiayai operasional sepur itu, mengingat biaya perawatan selama tidak kecil dan sesuai perkiraan mendekati angka miliaran rupiah ? Apakah kalangan legislatif akan diam saja ?
Sudahkah dibuat kajian tentang program operasional kereta api uap ini baik jangka pendek, menengah, panjang ? Mengingat minimnya kajian soal keberadaan ikon wisata yang dibangun (dibuat) untuk menunjang sektor pariwisata Solo. 
staf pengajar unika Joko
Joko Setijowarno
Pengamat transportasi nasional, Djoko Setijowarno berpendapat, dilihat dari kilas balik yang ada, menurutnya  upaya keras Pemkot Surakarta mendatangkan kereta uap ini patut diapresiasi. Langkah ini sebagai terobosan pemerintah untuk mendongkrak sektor pariwisata Solo agar bisa bersaing dengan kota-kota tujuan wisata lainnya di Indonesia. "Solo memiliki jalur rel tengah kota. Setelah dijalankan Sepur Klutuk Jaladara, kini ada kereta uap. Kini tinggal pemerintah setempat, apakah mampu mengoptimalkan potensi ini," terangnya. 
Dirinya paham, potensi yang dimiliki Kota Solo adalah jalur rel tengah kota. Oleh karenanya potensi itulah yang digenjot. "Makanya pemerintah bersusah payah mendatangkan kereta uap.dari Jakarta ke Solo ini," katanya.
Di lain pihak, staf Pengajar di Universitas Katolik Soegijapranata, Salatiga ini mendesak pihak-pihak yang berkompeten seperti Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pelaku wisata Solo dan tentunya masyarakat Solo untuk mendukung kehadiran ikon wisata ini dan mencari cara agar ikon ini laku dipasaran. "Jangan didiamkan saja, tanpa promosi atau memperkenalkan ke wisatawan. Buat sebuah agenda wisata dengan memberdayakan kereta api ini. Ambillah contoh pemanfaatan kereta kuno di Ambarawa yang sudah bagus," imbuhnya. 
Ia juga mendesak agar dibuat kajian secara komperhensif dengan pengoperasionalan kereta uap ini. Apakah bisa, kereta uap ini memberikan multiplier effect terhadap masyarakat luas. Apakah tidak akan menimbulkan pemborosan anggaran daerah ? "Nah baik eksekutif maupun legislatif duduk bersama membicarakan hal ini," tegasnya. (*/)


    

Festival Payung Kembali Hadir di Taman Balekambang Solo


taman balekambang-festival-payung
Payung hias

SOLO,wartosolo.com- Warga Solo sekitarnya di Jawa Tengah, bakal mendapatkan sajian menawan dan khas di Taman Balekambang Surakarta. Sajian itu berupa Festival Payung Indonesia 2016 yang segera dibuka mulai 23 September pukul 15.00 WIB, sampai dengan 25 September 2016. 


balekambang-festival-payung
Pameran payung
Ya, ajang seni budaya ini merupakan event tahunan yang digelar Pemkot Surakarta dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan pihak ketiga. 
"Silahkan yang berminat hadir ke Balekambang untuk mengabadikannya moment indah ini Festival Payung Indonesia 2016, " kata koordinator Mataya art&heritage, Heru Mataya.
Heru mengatakan, payung-payung yang ditampilkan merupakan hasil karya dari ketekunan perajin-perajin dari desa-desa payung nusantara dan eksplorasi serta pencapaian para koreografer dan kreator Fashion-payung.


Ajang swafoto 

Bila anda memasuki taman pusaka yang didirikan oleh Mangkunegoro VII, maka anda akan menemui sajian hebat berupa instalasi payung. Payung-payung ini dipajang sejak masuk kawasan taman kota terbesar milik Kota Solo itu. 
Menurut Kepala UPTD Kawasan Wisata Taman Balekambang Disbudpar Solo, Endang Sri Murniyati, festival ini gratis bagi pengunjung yang datang. Hanya pengunjung diminta membayar parkir saja. 
"Gratis. Silahkan bagi warga yang akan datang untuk menyemarakkan festival ini," katanya. 
payung-festival-taman-balekambang
Penataan instalasi payung

Festival tahunan ini merupkan kombinasi dari para pelaku industri kreatif yakni industri kerajian kreasi payung, serta penggiat pelaku seni karnaval lalu masyarakat yang akan berperan dalam melestarikan seni kerajinan payung Indonesia.
Sehingga setiap tahunnya, festibal payung nusantara ini bisa menyedot animo masyarakat untuk berkunjung ke Taman Balekambang Solo dan menikmati sajian seni budaya di sana.
festival-balekambang-payung
Instalasi payung 


Pijat Batu Refleksi Manjakan Pengunjung Taman Balekambang Surakarta



SOLO,wartosolo.
com-
Tak hanya kebersihan udaranya yang sudah menggema di seantero Nusantara, Taman Balekambang Kota Solo, Jawa Tengah juga terkenal dengan taman airnya. Nah, guna semakin mempopulerkan Taman Balekambang sebagai taman kota yang menyediakan ruang terbuka hijau bagi publik, pengelola Taman Balekambang menambah satu wahana lagi. Pilihannya jatuh pada penyediaan wahana baru berupa batu refleksi. Loh, mengapa batu refleksi yang lebih dipilh dibandingkan fasilitas lain yang lebih populer seperti taman ikan, refleksi iklan, atau fasilitas yang lainnya. Padahal di taman peninggalan penguasa Pura Mangkunegaran Solo hingga Kolonialsme Belanda ini masih tersedia space yang lumayan luas. 
Menurut keterangan pengelolan Taman Balakembang, batu yang dipasang di salah satu jalan setapak taman bisa dinikmati pengunjung taman yang ingin merawat kesehatan. Batu refleksi berupa kerikil ini juga bisa memperindah pemandangan di jalan setapak tersebut.
pijit-batu-refleksi2
Pijit batu refleksi
Nah, mulai bulan ini, fasilitas baru ini bisa dinikmati masyarakat secara cuma-cuma. Dari yang terlihat, pengelola memang memisahkan bagian-bagian terapi. Ada yang pemula, menengah atau yang terbiasa dengan refleksi ini. Hal itu bisa dilihat dari ketajaman batu-batu yang dipajang.
"Bagi yang pemula tentunya hanya sanggup menginjak kaki telanjangnya di batu yang bulat tak begitu tajam, karena bakalan sakit saat menginjkanya. Tetapi bagi yang sudah terbiasa menginjak kakinya di batu yang tajam sudah terbiasa," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kawasan Wisata Taman Balekambang Surakarta, Endang Sri Murniati .
Endang menayatakan, sebelum fasiitas batu refleksi di bangun di Balekambang. Ada usulan agar di ruang terbuka hijau itu dibangunkan refleksi ikan. Yakni kolam kecil di taman, yang didalamnya disebar ikan. Jika kaki manusia di masukan kolam ini, maka ikan-ikan akan memakan bakteri atau kulit mati pengunjung. Meski fasilitas ini lebih menjanjikan dan didukung oleh banyak pihak, namun keputusan itu akhirnya diurungkan karena berbagai alasan.
"Kami memilih memasang batu refleksi dibandingkan kolam ikan refleksi karena lebih higienis dan lebih indah. Pengunjung pun suka," kata Endang.

Susunan Bebatuan Bukit Pajangan Purworejo Ternyata Bukan Candi

purworejo-penemuan-candi-di
Susunan batu alami

WARTOSOLO.COM-Susunan bebatuan di bukit Pajangan, Desa Sidomulyo, Purworejo, Jawa Tengah dipastikan bukan candi. Faktor alam yang disebut faktor geologis-lah yang menyebabkan, susunan batu seperti candi terbentuk rapi di sana. 
Penegasan itu disampaikan pejabat dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. 
Kasi Pelestarian BPCB Jateng, Gutomo menjelaskan, pada zaman dulu kala, lava yang keluar dari perut bumi (erupsi) mengalami proses pendinginan. Nah, pada saat pendinginan lava ini terjadilah gradien temperatur dan pengkerutan permukaan lava. Proses inilah yang menyebabkan batu tersusun dengan rapi.  
Berdasarkan kajian Ilmu Geologi, proses alam semacam ini dijuluki columnar joint.
"Bukan candi, susunan bebatuan di bukit Pajangan, Desa Sidomulyo, Purworejo, Jawa Tengah hanya karena gejala geologi yang lazim disebut columnar joint," jelas Gutomo. 

purworejo-penemuan-di-candi
Pemandangan susunan batu 
Masih menurut Gutomo, tak ada intervensi manusia dari pembentukan susunan bebatuan itu. Intervensi manusia yang dimaksud adalah tidak ditemukannya benda-benda peninggalan peradaban manusia masa lalu. Peneliti juga tidak menemukan pahatan-pahatan batu yang lazim ditemukan di sebuah candi. 
Sehingga adanya pendapat bahwa batu itu adalah candi tidak berdasar. Sebab, pembuatan candi semacam Prambanan atau Borobudur murni dibentuk dari tangan-tangan manusia, bukan alam. 
"Faktor alamnya sangat kuat. Kita sudah melakukan pemeriksaan dan tidak menemukan benda-benda dan pahatan-pahatan batu candi di sana. Jelas sekali itu bukan candi,Lha BPCB Jawa Tengah sudah melakukan pemeriksaan sejak lama," katanya. 
Dengan penjelasan secara langsung dari pejabat BPCB ini maka jelaslah bahwa isu yang membuat gempar masyarakat ditemukanya candi di lokasi longsoran di Kabupaten Purworejo terpatahkan.
Kendati demikian, tersiarnya berita penemuan bangunan rapi di bukit Pajangan yang semula disebut candi ini tetap menghebohkan. Bila tidak ada kejadian longsor yang menyebabkan korban jiwa Juni 2016 lalu, susunan batuan ini tak akan muncul. Masyarakat sekitar masih percaya bukit Pajangan Desa Sidomulyo, Purworejo, Jawa Tengah kelak akan memuncul fenomena alam yang mengagumkan. 

Asrama Haji Donohudan Boyolali Ikon Baru Ajang Swafoto

boyolali-asrama-haji-donohudan
Asrama haji Donohudan Boyolali

BOYOLALI,wartosolo.com-Bagi anda penggemar fotografi dan pemburu objek swafoto. Ini dia tempat yang wajib anda kunjungi. Tempat ini tak jauh dari Bandara Adi Soemarmo Solo di Boyolali. Jaraknya hanya 5-7 kilometer saja. 
Nah, lokasinya akrab disebut Asrama Haji Donohudan Boyolali yakni tempat penampungan calon haji seblum pemberangkatan atau kepulangan dari Arab Saudi.  
Bangunan yang dikelola oleh Pemprov Jateng melalui Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah (DPPAD) ini memiliki objek bangunan yang kaya dan artistik. 


asrama-haji-donohudan-boyolali
Eksterior asrama haji


Bahkan seorang mahasiwa dari Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta menyebutkan, konsep dasar bangunan asrama haji Donohudan, ternyata menggunakan pendekatan filosofi Dinul Islam. Artinya  gambaran perjalanan keimanan yang dimulai dari Islam, Iman, dan memuncak pada Ihsan. Sehingga dalam menjalankan ibadah haji merupakan suatu tahapan untuk mencapai ihsan.  
 Lalu bangunan apa yang patut dipotret atau dijadikan latar swafoto itu. 
donohudan-haji-boyolali-asrama
Pintu masuk asrama haji

Nah ini dia, bangunan yang pertama jelas pintu masuk asrama haji atau di tepi Jalan Cendrawasih, lalu gedung Muzdalifah, Jeddah, Madinah, Arofah, gedung shafa serta bangunan Masjid Al Mabrur. 
Khusus yang ingin selfie layaknya di depan Baitussalam (Kabbah) di Makkah ada replikanya di sisi timur bangunan utama asrama. 
Untuk waktu pemotretan, disarankan mengambilnya pada pagi atau sore hari pada saat sinar matahri tidak tegak lurus. Hal ini dilakukan bagi anda yang ingin mencari pencahayaan yang bagus. 
Tetapi kalau sekadar ingin swafoto pada pagi, siang, sore atau bahkan malam hari tetaplah bagus berfoto-foto ria. (*)
donohudan-boyolali-asrama-haji-
Pemandangan asrama haji

Bila Digarap Serius, Moda Penyeberangan Bengawan Solo Amat Menjanjikan



SOLO,wartosolo.com-Moda transportasi penyeberangan tradisional dengan menggunakan rakit bambu di Bengawan Solo yang menghubungan wilayah Sukoharjo dan Solo sudah eksis sejak berpuluh-puluh tahun. Dari generasi ke generasi pelayanan, alat transportasinya dan fasilitasnya tetap tak berubah. Seandainya dikelola dengan baik, aman, nyaman dan murah maka potensinya sangat menjanjikan. Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno menuturkan, rakit bambu tak hanya membantu masyarakat yang ingin mempersingkat jarak dan waktu mencapai dua lokasi. Pemerintah pun terbantu dengan sarana prasarana ini. 
"Pemerintah tak perlu membangunkan jembatan di sana karena ada getek. Sepanjang Bengawan Solo dari hulu hingga hilir pasti moda transportasi tradisional seperti ini banyak, jadi cukup membantu. Nah, tidak mungkin dibangun jembatan penyeberangan, pasti biayanya mahal," terangnya.
penyeberangan-solo-bengawan
Penyeberangan Bengawan Solo
Untuk merealisasikan hal itu, pemerintah pusat bisa mengajak pemerintah provinsi dan pemerintah kota untuk mengelola secara baik penyeberangan sungai ini. Mengingat moda ini menghubungan dua wilayah berbeda yakni Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Ia berharap, ada survei dan kajian yang ilmiah untuk melihat potensi penyeberangan Bengawan Solo. 
"Karena menhubungkan dua wilayah maka Pemprov Jateng yang paling besar memiliki andil mengelolanya," katanya. 

Intervensi Pemerintah

Secara teknis, Djoko menyampaikan, jangka pendek pengadaan dermaga bisa dibantu oleh pemerintah. Tetapi pengadaan alat penyeberangan bisa dikerjakan oleh sektor swasta. Sementara alat penyebarangan masih berupa perahu tradisional yang memiliki keselamatan yang lebih baik  
"Dermaga bisa bantuan pemerintah. Kalau kapal harus buat lama dan sedikit mahal. Alat penyeberangan bisa meniru contoh perahu yang dipakai di Rawa Jombor, Klaten. Tapi bisa dibuat lebih bagus lagi dan berkeselamatan," tandasnya. Langkah lain yang bisa dilakukan pihak terkait adalah menentukan teknologi tepat guna untuk penyeberangan. "
Dapat dilombakan. Pasti nanti dapat design yang bagus," imbuhnya. 
Mujiman, operator getek mengakui senang bila ada perhatian pemerintah dengan pekerjaannya. Selama ini bila ada kerusakan rakit dan dermaga, uang yang dikeluarkan dari hasil keringatnya. 
"Senang saja, bila dibantu pemerintah. Apalagi dapat perahu baru," katanya.(*/) 

solo-penyeberangan-bengawan
Seberangkan warga
Penyeberangan Sungai Bengawan Solo

-Hubungkan Dusun Jagang, Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo dengan Kampung Beton Sewu Jebres, Kota Solo.
- Alat transportasi berupa rakit bambu (getek)
- Mulai operasi sejak 1970-an
- Waktu beroperasi pukul 05.00-19.00
- Memangkas jarak 5-10 km, dan waktu 45-1
- Tarif perorang Rp 1.000
- Sepeda motor Rp 2.000

Potensi :
-Memudahkan akses warga ke dua wilayah
-Tak perlu membangun jembatan penyeberangan
-Ekonomi warga meningkat karena dilalui orang
-Potensi wisata bisa terangkat
-Pengembangan wilayah pinggiran kota dan sungai

Berbasah-basah Ria di Kolem Keceh Taman Balekambang Solo

taman keceh balekambang
Lokasi wisata taman keceh

SOLO,wartosolo.com-Wahana baru di Taman Balekambang Solo Jawa Tengah ini cukup unik. Dari namanya saja sudah bikin gemes, yakni kolam keceh. Seandainya ingin menikmati wahana ini, anda dan kelurga wajib membawa ganti baju bila tidak ingin basah kuyup. 
Kolam keceh sebenarnya adalah wahana yang disedikan oleh anak-anak. Tetapi demi menjaga keselamatan dan memberikan perlindungan kepada anak, maka orang tua masuk ke wahana ini.
Pengelola Taman Balekambang memang menyediakan sarana ini demi memberikan tambahan pengalamaan bagi keluarga, khususnya anak-anak terhadap air. 
"Jadi anak-anak bisa bermain sepuasnya dan tentunya mengenali lebih jauh tentang air," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Taman Balekambang Endang Murni.
Nah, lokasi kolam keceh ini satu kompleks dengan kolam Partini Twain. 
Bila dulunya lokasi ini dibiarkan begitu saja dan malah terlihat penuh sampah. Maka pengelolanya menyulap lokasi tampungan air menjadi taman keceh. Selain memberikan tambahan wahana bagi pengunjung, faslitas ini disiapkan untu mendukung Solo Kota Layak Anak. Tujuan membuka wahana ini untuk memberikan edukasi bagi masyarakat soal pemahaman sejarah Partini Twain sekelaigus edukasi terhadap konservasi alam.
"Jadi ada dua tujuan yakni konservasi alam dan hayati di taman ini. Jadi pengunjung (anak-anak) tidak hanya datang untuk keceh," ungkapnya. 
Selain kolam keceh, taman yang dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Surakarta ini juga menyediakan wahana perahu air, memancing, taman repitl dan wahana-wahana lain. Di ruang terbuka hijau ini juga dipelihara rusa dan merak.  


Datang Ke Bonbin TSTJ Jurug Solo Bisa Selfi dengan Pesawat TNI AU Bersejarah


jurug taman satwa taru
Spot swafoto



SOLO,wartosolo.com- Solo, Jawa Tengah tak afdal bila tak mampir ke Kebon Binatang (Bonbin) Taman Satwa Taru Jurug. Selain memiliki berbagai macam koleksi satwa dan tetumbuhan yang komplit. Akhir-akir ini pengelola TSTJ melengkapi diri dengan koleksi anyar yang bisa dimanfaatkan selfi para pengunjung. Karena jelas tidak mungkin selfi dengan binatang buas kan. 
Nah koleksi tersebut berupa pesawat terbang. 
Mengapa besi bersayap ini dipamerkan di salah satu lokasi TST yang dikenal dengan Taman Gesang ini ?
Menurut penuturan si empunya TSTJ yakni Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso. pesawat amat penting untuk memberikan pandangan yang berbeda baik bagi  keindahan TSTJ ataupun pandangan baru bagi pengunjung. 
Terlebih Pangkalan Udara (Lanud) Adi Soemarmo sangat antusias untuk menyumbangan pesawat ini ke perusahaan daerah milik Pemkot Surakarta ini. 
Mengingat pesawat B 13 ini merupakan kapal terbang latih pertama yang dimiliki Lanud Adi Seomarmo Boyolali. Pesawat buatan 1951 ini pernah mengudara pada 1954 dan dinyatakan pensiun pada 1972, lalu dimuseumkan. Sebelum diserahkan, pesawat itu diperbaiki pada bulan Oktober lalu.  
 Dengan adanya koleksi terbaru ini, pengelola TSTJ sangat optimistis target jumlah pengunjung sebanyak 400.000 tahun ini bisa terdongkrak. Amiin.. Semoga terpenuhi.()
taman satwa taru jurug
Pesawat sumbangan TNI AU

Destinasi Museum Solo, Ya Monumen Pers Nasional

 


pers-solo -monumen
Bangunan Monumen Pers Solo
SOLO,wartosolo.com- Kota Solo Jawa Tengah menjadi salah satu kota di Indonesia yang memiliki warisan sejarah yang tak ternilai harganya. Salah satu warisan nenek moyang yang masih berdiri kokoh adalah Monumen Pers Nasional (MPN) Surakarta.
Koleksi museum yang berdiri 1978 antara lain,  mesin ketik underwood milik tokoh Bakrie Surya Atmaja (jurnalis Sipatahoenan dari Bandung), baju yang dipakai Hendro Dubroto saat meliput pendudukan Indonesia di Timor Timur tahun 1975, perlengkapan parasut Trisnojuwono ketika meliput gerhana matahari 11 Juni 1983 serta  kamera Fuad Muhammad Syafruddin, jurnalis Bernas dari Yogyakarta yang dibunuh setelah mengangkat skandal korupsi tahun 1995. Koleksi-koleksi itu menjadi magnet tersendiri salah satu cagar budaya di bidang jurnalistik ini. 
Salah satu benda cagar budaya (BCB) ini masih terawat baik properti bangunan maupun koleksi-koleksinya. 
Berkunjung ke museum yang menyimpan benda-benda bersejarah yang berisi cikal bakal berdirinya pers di Indonesia memang tiada ruginya. 
Museum dipinggir Jalan Gajahmada Solo masih menyimpan koran-koran terbitan zaman penjajahan Belanda, Jepang, masa revolusi, Orde Lama, Orde Baru dan reformasi. Bahkan koran-koran terbitan pelosok kota di seluruh Indonesia sudah tersedia. Koran-koran dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti Lampung, Samarinda, Maluku dan Aceh. 
Selain menjadi lokasi penyimpanan benda-benda bernilai sejarah, museum peninggalan Mangkunegara VII (penguasa Pura Mangkunegaran) juga menjadi pusat studi pelajar, mahasiswa dari Solo dan luar Solo.  
Kepala Museum Pers Nasional  Surakarta, Suminto Yuliarso mengatakan, di antara museum-museum terkenal di Solo seperti Radya Pustaka, Museum Keris, Museum Ronggowarsito, Museum Batik. Museum Pers Nasional adalah museum yang aling ramai dikunjungi. Dalam setahun ada dua juta pengunjung datang ke sini 40.000 orang. 

monumen-pers-solo
Si Momon

Kunjungan Siswa

Pada masa libur sekolah ini, jumlah kunjungan ke MPN meningkat pesat dibandingkan hari biasanya. Pihak monumen bahkan memberlakukan sistem piket, di mana pada Sabtu dan Minggu tempat menyimpan benda bersejarah itu tetap melayani pengunjung.
 Mulai 2016 ini kami mencanangkan museum ini sebagai destinasi wisata khususnya permuseuman di Indonesia. Pengelola Museum Pers Nasional Surakarta bekerja sama dengan pelaku pariwisata dan Pemkot Surakarta sudah memasukan Monu,em Pers Nasional Surakarta  sebagai salah satu kawasan yang masuk dalam paket kunjungan wisatawan.

solo -monumen-pers
Perpustakaan MPN

Sedikit Cerita dari Sungai Kecil Cheong Gye Cheon Seoul Korsel


WARTOSOLO-Siapa yang menyangka Sungai Cheong Gye Cheon yang dulunya kotor, kumuh, penuh sampah dan menjijikkan, kini menjadi salah satu andalah wisata Kota Seoul, Korea Selatan. Bila tidak berkat kerja keras Pemerintah Metropolitan Seoul yang dulu dipimpin Wali Kota Lee Myung-bak membersihkan menata dan mengubah (restorasi) sungai ini menjadi ruang terbuka hijau yang dikenal seantero jagad. 
Sungai sepanjang 5,84 km kini malah menjadi ikon Kota Seoul dan wajib dikunjungi para wisatawan. Karena pemandangan indah sungai di malam hari karena berbagai lampu kelap-kelip aneka warna yang dipasang. Pada pagi hari suara gemericik air, dan udara yang segar memberikan suasana yang beda. Apalagi bagi yang ingin jogging di kawasan ini.  Pasti berlari akan makin giat dan bersemangat.


sungai-kecil-cheong-gye
Ikon Kota Seoul
Nah, berdasarkan cerita dari sebuah kunjungan di Cheong Gye Cheon Museum, sungai kecil sedalam 40 sentimeter ini dulunya kumuh. Kalau dibandingkan seperti Sungai Ciliwung lah !
Banyak terdapat rumah-rumah papan kayu yang sering terbakar, dan masyarakat melakukan di MCK itu. Pokoknya kumuh dan tak teratur. 
Lalu munculah Wali Kota Lee Myung-bak. Dalam kampanyenya, ia ingin sungai ini diubah seratus persen menjadi lebih sehat, pusat habitat tumbuhan dan hewan, dan airnya bisa dijadikan sumber air minum. Maka proyek restorasi sungai pun dimulai !
Diawali dengan penggusuran rumah-rumah kumuh, pembongkaran bangunan-bangun yang tak berguna, serta membongkar bangunan jalan layang. 
Memang tak mudah membalik tangan dalam mengerjakan proyek ini. Masyarakat setempat menolak mentah-mentah. Demonstrasi berlangsung hampir tiap hari. Tak peduli apakah proyek itu akan berhasil aiau tidak !
Meski begitu pemeritah waktu itu tetap istiqamah, tetap bekerja dan tak menggubris protes-protes tersebut.


gye-sungai-kecil-cheong
Penataan sunga Cheong Gye
Kedepankan Dialog 

Tiga sektor yang digenjot pemerintah haru tetap berjalan yakni mengembalikan harkat martabat kehidupan warga Seoul yang menjadi korban restorasi, mempercepat pembanguan dan lain-lain. Upaya yang dilakukan untuk menyelarasakan ketiga hal itu dengan terus mengajak dialog warga. Berdasarkan keterangan pemandu museum setempat, ada sekitar 4.000 lebih pertemuan dengan warga untuk memastikan proyek berjalan baik, sebelum diresmikan. Hingga memasuki medio 2000-an wujud asli proyek ini terlihat. Maka masyarakat yang dulu menentang, berbalik arah mendukung restorasi ini. Hingga pada 2003 diresmikan dan dibuka untuk umum. 
cheong-gye-sungai-kecil
Pemandangan malam Cheong Gye
Kini sungai kecil itu telah menjadi kebanggan warga Seoul. Berbagai aktivitas di gelar di jantung kota Negara Ginseng itu. Dan kabar terakhir dari kesuksesan itu mengangkat wali kota Lee Myung-bak menjadi presiden Korea Selatan. 
Nah, bagi anda yang berkesempatan pergi ke Seoul mampirlah ke sungai ini dan berkunjung ke museum. Mata anda akan terbelalak, bahwa kenekatan dan mungkin kegilaan untuk berubah ke arah lebih baik bisa terwujud dengan kerja keras, tak peduli halangan di depan mata. Begitulah yang terjadi dengan Sungai kecil Cheong Gye Cheon. (*/)

 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>