Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   

Sosok Inspiratif

Intan Dituntut Multi Talenta

TERJUN ke dunia panggung hiburan zaman sekarang ini tak melulu mengandalkan para ayu dan tubuh aduhai. Sekali kelebihan yang diber...

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

SUARA MERDEKA SOLO

SILAHKAN PESAN/ORDER

SILAHKAN PESAN/ORDER

Follow by Email

SILAHKAN KUNJUNGI SITUS KAMI

Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

Ada Pesona Surgawi di Air Terjun Jumog


air-mancur-jumog

 "Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya terserah anda !" 
KIASAN itu bisa sedikit menggambarkan tentang objek wisata alami yang indah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Indonesia. Betapa tidak, objek wisata air terjun ini begitu alami dan seolah belum tersentuh tangan manusia. 
Jika anda datang ke air terjun ini. Anda dipaksa menuruni 116 anak tangga. 
Bagi anda penikmat keindahan alam tantangan ini bukan halangan demi menikmati wisata alam yang iniah di Air Terjun Jumog Karanganyar. 
Air Terjun Jumog merupakan wisata andalan di Kabupaten Karanganyar. Obyek wisata ini berada di kaki Gunung Lawu, tepatnya di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso. Jaraknya sekitar 41 kilometer dari arah Kota Surakarta. 
Berhawa sejuk dan hamparan pepohonan rindang mengelilingi tempat wisata ini. Saat hendak menuju air terjun ini, anda tak bakalan kepanasan 
Sebab selesai menapaki 161 anak tangga, kaki-kaki anda bakal langsung merasakan kesegaran air terjun tersebut. 
Baca : Tiket Masuk Wisata Pandawa Water World Solo Ditawarkan Harga Murah
Baca : Asyiknya, Liburan di Pandawa Water World Solo

Belum terjamah

Dulu kala saat ditemukan, Air terjun Jumog langsung dijuluki Surga yang Hilang. Betapa tidak, sebelum resmi dibuka untuk umum pada 2004, jalan masuk air terjun ini ditutupi semak belukar. 
Warga dan Pemerintah Desa (Pemdes) Berjo pun bekerja keras dengan bergotong royong membabat semak dan membuka jalan sehingga air terjun ini agar bisa dilihat umum. 
Oya, Tinggi air terjun ini hanya sekitar 30 meter. Debit airnya tak terlalu besar meski hujan turun. Pada musim kemarau datang, debit air juga tak sedikit. Airnya begitu jernih dan menyegarkan. Biasanya, pengunjung bermain dan merendam kaki di aliran sungai yang meneruskan limpahan air terjun. 
air-mancur-jumog1

Di depan air terjun, Badan Umum Milik Desa Berjo yang mengelola tempat wisata ini membuat jembatan. Lokasi ini menjadi tempat favorit pengunjung berfoto dengan latar air terjun. Pengelola juga membuat bangku-bangku dari kayu yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk melepas lelah dan menikmati kawasan wisata ini. 
Fasilitas lain yang disediakan pengelola berupa wahana permainan anak berupa jungkat jungkit, ayunan, dan bola panjat. Ada juga kolam renang untuk anak. Namun, tak banyak wahana air yang tersedia selain ember tumpah. Anda yang tak membawa bekal tak perlu khawatir kelaparan. Terdapat jajaran warung yang menyiapkan beragam menu, mulai mi instan sampai sate kelinci atau sate ayam. Anda pun punya pilihan menikmati di dalam warung atau di pinggir anak sungai air terjun. Wahana permainan air di Air Terjun Jumog di Kabupaten Karanganyar. Deretan warung juga ada di jalur sebelum loket masuk air terjun. Mereka tak sekadar menawarkan makanan tetapi juga oleh-oleh produk masyarakat sekitar. Semisal, keripik ketela dan teh beragam rasa, serta jambu kristal. Tiket masuk Air Terjun Jumog hanya dipatok Rp 3.000 per orang. 
Baca : Wisata Taman Balekambangan, Solo, Jawa Tengah

Naik minibus

Anda yang membawa kendaraan pribadi bisa memarkirkan motor dan mobil di tempat yang telah disediakan pengelola. Tarif parkir sepeda motor Rp 1.000 dan mobil Rp 2.000. 
Anda yang lebih menikmati menggunakan kendaraan umum, bisa naik bus dari terminal Solo. Pilih bus jurusan Tawangmangu atau Matesih, dan turun di Terminal Karangpandan. Perjalanan dilanjutkan menggunakan minibus jurusan Ngargoyoso atau Kemuning. Anda bisa turun di pos retribusi wisata Kemuning atau di Nglorog dan berganti naik ojek. Tempat wisata ini buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB. 
Objek wisata terbau di Karanganyar ini kemudian dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk dikembangkan lagi. Bahkan, awal Maret lalu Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwista Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengundang sejumlah pelaku wisata asal Jawa Timur untuk mengeksplorasi objek wisata ini. 
air-mancur-jumog2

Khalik salah satu jurnalis mengaku kagum dengan pesona wisata Air Terjun Jumog ini. "Indah banget, alami dan asri. Objek wisata ini bisa dikembangkan lebih baik lagi ke depannya," katanya. 
Kepala Seksi Pengembangan dan Pasar Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwista Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Tanti Apriani, mengatakan, pelaku wisata asal Jawa Timur langsung melakukan eksplorasi potensi wisata di Air Terjun Jumog ini. "Tujuannya adalah pelaku wisata ini bisa meliat dari dekat potensi wisata ini dan memasarkan langsung kepada calon wisatawan di daerahnya."
Selain di Air Terjun Jumog ini, Karanganyar kaya dengan potensi wisata lain seperti, Candi Cetha/Sukuh, kawasan kebun teh Kemuning, Rumah Atsiri Indonesia, Museum Pabrik Gula De Tjolomadeo dan masih banyak lagi. (sumber utama travel kompas)
Simak : Objek Wisata Bernama "Jeglogan Sewu'' ini Tiba-tiba Jadi Bahan Perbincangan Netizen

Sukses Besar, Pertunjukan 10 Dekade SIPA

solo-sipa3

SOLO,wartosolo.com - Solo International Performing Arts atau SIPA telah digelar sejak 5-8 September tahun ini. Berlangsung di Benteng Vastenburg seperti tahun-tahun sebelumnya, SIPA mampu mendatangkan lebih dari 10 ribu penonton setip harinya.
 Memasuki penyelenggraan yang ke-10, SIPA mengusung tema 'We Are The World - We Are The Nations'. Sebanyak 17 delegasi dari 7 negara hadir menyambut 10 tahun SIPA. Wow, jumlah delegasi yang fantastis karena delegasi-delegasi ini memiliki namanya di negaranya. 
Ke-17 delegasi adalah Supa Kalulu Music of Zimbabwe and Beyond (Zimbabwe), Capitol University Dance Troupe (Filipina), Stefano Fardeli (Italia), Filastine and Nova (Spanyol), Liene Roebana Dance Company Belanda dan Chinese Touth Goodwill Association (Taiwan). 
Delegasi Tanah Air tak mau kalah pamor, ada Flying Balloons Puppet (Yogyakarta), Gilang Ramadhan (Jakarta) feat Smiet (Palu), Studio Taksu (Solo), Boogie Papeda dan Komunitas Street Pass (Papua), Melati Suryodarmo (Solo), Holobis (Solo), Citra Buranteni Putri (Bandung), Komunitas Seni Jati Swara (Surabaya), Suling Bambu Dasarai Lamaknen, Belu, Atambua (NTT), Diklat Tari Anjungan Jawa Timur, TMII (Jakarta, serta Departemen Pendidikan Tari FPSD UPI (Bandung) dan Park Na Hoon (Korea). 
Bacalah : SIPA 2018 Spectacular !!! 
Hal fantastis dari puncak acara SIPA 2018 adalah durasinya. Jika biasanya SIPA dimulai sekitar pukul 19.00, kali ini pertunjukannya bisa disaksikan lebih awal, yakni pukul 16.00 WIB. Tujuannya tak lain adalah memberikan waktu lebih bagi penonton untuk menyaksikan penampilan seniman.
Bagi seniman yang tampil, memiliki waktu yang lebih longgar dalam menampilkan karya terbaiknya agar bisa memuaskan penonton. Segi non-teknis yang menguntungkan dari satu dekade SIPA ini faktor cuaca. 
Selama digelar tiga hari, langit di atas Kota Solo cerah. Kegiatan di tempat terbuka pun berlangsung tanpa kendala teknis dan non-teknis.  

Pembukaan 

Rangkaian SIPA dimulai pada awal September. Ya karen SIPA kali ini berlangsung lebih spesial. Ada event penting, SIPA Goes to Cafe digelar 4-5 September. Widya Ayu Kusumawardani dan Tutut Tuty menahkodai SIPA Goes to Cafe. Program berikutnya ada SIPA Goes to Campus yang digelar di Auditorium UNS pada Rabu (5/9) dan menghadirkan Danilla Riyadi. 
Pada pembukaan SIPA, seniman asal Solo, Melati Suryodarmo giliran menggebrak. Maskot SIPA 2018, ini berkolaborasi dengan sanggar Semarak Candrakirana, Studio Plesungan, dan SMKI. Mereka akan diiringi lebih dari 30 pemain musik dari Etnomusikologi ISI Surakarta.
Melati yang sudah belasan tahun berkesenian di Eropa, membuka acara dengan paduan seni tari dan musik kontemporer. Berkolaborasi seniman tuan rumah menyuguhkan tari kolosal bertema Jemparingan alias Panahan.
“Saya hanya ingin menampilkan karya,  yang berpesan mengenai penghargaan akan keberagaman,” ujar Melati usai tampil. 
berikutnya, tampil pertunjukan Suling Bambu Dasarai Lamaknen, dari Kabupaten Belu, Atambua, NTT. Berturut disusul penampilan Studio Taksu asal Solo, Chinese Youth Goodwill Association dari Taiwan, serta Gilang Ramadhan yang berkolaborasi dengan seniman asal Palu, Smiet.
Elisabeth (48), penonton asal Darwin Australia yang mengajak temannya dari Australia mengaku terkesan. Elisabeth mengaku sudah 3 bulan berada di Solo untuk urusan bisnis.
"Saya suka pertunjukkan seni seperti SIPA ini. Kebetulan maskot tahun ini (Melati Suryodarmo) pernah saya tonton pertunjukannya saat berada di Jerman," tuturnya dalam bahasa Indonesia.
Simaklah : Luar Biasa Festival Cheng Ho Sukses, 20.000 Tiket Terjual

Penutupan 

Tapi, sungguhan spesial yang bisa dinikmati penonton dari penjuru Indonesia adalah pada malam terakhir. Filastine and Nova yang didapuk menutup acara itu tampil menawan. Filastine and Nova merupakan duo seniman asal Spanyol yang menampilkan drapetomania. Drapetomania sendiri berupa pertunjukan musik eksperimental yang meleburkan unsur akustik dan elektronik di dalam musiknya.
Uniknya, di dalam musik Felastine and Nova akan terdengar musik khas dari berbagai negara, termasuk gamelan Jawa.
Selain itu, ada juga pertunjukan tari berjudul "Touching Unknown People" yang merupakan hasil kolaborasi koreografer asal Indonesia Ayo Sunaryo dan Korea Selatan Park Na Hoon.
Dibawakan oleh 10 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tarian tersebut merupakan gabungan antara gerakan khas Korean Pop (KPop) dan tarian khas Jawa Barat.
Tarian ini menceritakan tentang bertemunya orang-orang baru, tidak ada perbedaan warna kulit, perbedaan agama dan budaya tetapi kita adalah manusia. Pesan yang ingin disampaikan adalah kesatuan di dunia, satu kesatuan di dunia dan harus saling berinteraksi.
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI memberikan apresiasi positif terhadap penyelenggaraan SIPA tersebut. Kepala Bekraf Triawan Munaf berharap pelaksanaan SIPA dapat mempercepat perkembangan subsektor seni pertunjukan di Indonesia. Lihat versi bahasa Inggrisnya situs wisata di visit khatulistiwa.
Berdasarkan data, kata dia, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun 2017 sekitar Rp1.000 triliun. Sedangkan sumbangan industri kreatif Indonesia terhadap PDB pada 2016 mencapai Rp922 triliun.
"Artinya rata-rata kenaikan per tahun mencapai Rp70 triliun. Diharapkan melalui kegiatan seperti ini dapat meningkatkan sumbangan industri kreatif Indonesia terhadap PDB," katanya.  (Berbagai sumber)
Kunjungi juga : Macrame Lukitri Ernarayani Terbang Sampai Dubai

SIPA 2018 Spectacular !!!

solo-sipa2

SOLO,wartosolo.com -Kota Solo, Jawa Tengah punya hajatan berskala internasional. Acara itu bernama Solo International Performing Arts (SIPA). 
SIPA merupakan ajang pergelaran seni budaya berskala international dengan seni pertunjukan mulai dari seni tari, seni musik, hingga seni teater tahun ini kembali digelar di Kota Solo, Jawa Tengah. 
Perlu diketahui,  SIPA merupakan pergelaran seni pertunjukan berskala internasional yang menjadi ruang temu para seniman penampil dari berbagai latar budaya.
Merupakan ide dari Raden Ajeng Irawati Kusumorasri, seniman dan koregrafer tari yang juga seorang penari tetap Istana Mangkunegaran Keraton Surakarta. SIPA digelar dengan melibatkan generasi muda seniman lokal agar mereka dapat menjadi garda depan ketahanan budaya Indonesia. 
Waktu itu SIPA menyediakan sekitar lima ribu tempat duduk bagi penonton yang ingin menyaksikan karya-karya koreografis indah yang ditampilkan di atas panggung spektakuler sepanjang 33.7 meter. Selain menyuguhkan pertunjukan tradisi dan modern, SIPA dimeriahkan juga dengan bazaar batik, kerajinan tangan, dan produk-produk kuliner khas Solo. 

Spektakular

Pada tahun 2018 ini, event Solo Performing Art lebih spesial. SIPA merayakan usianya ke sepuluh tahun. Satu hal yang membedakan perhelatan calender event dengan tahun-tahun sebelumnya adalah SIPA hanya diselenggarakan selama empat jam per hari, mulai dari pukul 19.00 sampai 23.00. Khusus puncak perayaan SIPA 2018 akan diselenggarakan dengan durasi lebih panjang.  
"SIPA sekarang sampai tujuh jam selama tiga hari. Mulai pukul 16.00 sampai 23.00, selama tiga hari berturut, 6 - 8 September 2018, di Benteng Vastenburg Solo,” kata Humas SIPA 2018, Henggar Ramadhana.
Simaklah : SIPA Dari Masa ke Masa 
Kelebihan lain dari SIPA 2018 ini bisa dirangkum dalam tiga hal. 
Pertama, penonton akan diajak menari bersama oleh Temon Holic Holobis Solo, sebuah komunitas di Solo yang menjadi wadah bagi para pecinta seni pertunjukan tari dengan iringan musik koplo, campursari, dan musik lain dengan irama yang menghentak. 

Kedua, pertunjukan Flying Ballons Puppet, grup teater boneka dari Yogyakarta. Flying Ballons Puppet yang dibentuk oleh Rangga Dwi Apriadinnur pada 2015 ini merupakan hasil dari kelas laboratorium keaktoran di jurusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di SIPA 2018, Flying Ballons Puppets akan menampilkan karya tunggal Sori dan Lembuna, kisah pertemanan antara manusia dan siluman.

Ketiga, penonton akan diajak menyaksikan sekaligus mencoba berlatih memanah bersama Semut Ireng Pop Archery Sriwedari (SIPAS), komunitas panahan tradisional yang didirikan pada 2015 dan bermarkas di Taman Sriwedari Solo.

Setelah dihibur oleh tiga acara pembuka, penonton bisa menyaksikan penampilan berbagai delegasi dari dalam dan luar negeri di panggung dalam Benteng Vastenburg.

“Untuk delegasi dalam negeri ada dari Solo, Surabaya, Bandung, Jakarta, Palu, NTT, dan Papua,” kata Henggar. Delegasi dari Solo ada Melati Suryodarmo, seniman performance art bertaraf internasional, dan Studio Taksu (Tari, Gerak, Suara) yang dibentuk sejak 1995. Delegasi dari Jakarta ada drummer papan atas Gilang Ramadhan yang akan berkolaborasi dengan Smiet Lalove, musisi perkusi dari Palu.

Adapun dari Indonesia Timur, ada delegasi NTT yang akan menampilkan Suling Bambu Dasarai Lamaknen dan Boogie Papeda & Komunitas Street Pass dari delegasi Papua. “Delegasi luar negeri ada Liene Roebana Dance Company (Belanda), Stefano Fardeli (Itali), Filastine and Nova (Spanyol), Supa Kalulu (Zimbabwe), Chinese Youth Goodwill Association (Taiwan), dan Capitol University Dance Troupe (Filipina). Semua pertunjukan ini gratis dan terbuka untuk umum,” kata Henggar.
Baca juga : Luar Biasa Festival Cheng Ho Sukses, 20.000 Tiket Terjual
Sebelum memasuki puncak perayaan SIPA pada 6 - 8 September, masyarakat Kota Solo dan sekitarnya juga akan dihibur oleh SIPA Goes to Café dan SIPA Goes to Campus pada 4 - 5 September. SIPA Goes to Café akan menampilkan Widya Ayu Kusumawardani dan Tutut Tuty di Waroeng Kroepoek Solo, Diamond Café Solo, dan Double Decker Solo Baru, Sukoharjo tiap malam (pukul 19.00 dan 21.00).
Sedangkan SIPA Goes to Campus akan menggelar konser musik di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pada Rabu mulai pukul 18.00. 

Ajang SIPA ini rutin digelar di Benteng Vastenburg, sebuah benteng peninggalan Belanda di kawasan Gladak, Kota Surakarta. Kawasan ini memiliki nilai heritage yang tinggi seiring dengan sejarah perkembangan Kota Solo. Letaknya juga strategis karena berada di tengah kota, Berdiri megah di atas lahan seluas 31.553 meter, Benteng Vastenburg dibangun pada tahun 1774 atas perintah Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff. 
Baca juga : Lewat Festival Dawet, Khasanah Baru Wisata Boyolali Bertambah

SIPA Dari Masa ke Masa

solo-sipa1


SOLO,wartosolo.net - SIPA atau Solo International Performing Arts adalah sebuah ajang pergelaran seni budaya berskala international dengan materi berupa seni pertunjukan. Sedangkan pertunjukan yang dimaksud wilayah genre seninya mulai dari seni tari, seni musik, hingga seni teater, bahkan tidak menutup kemungkinan melebar ke wilayah seni yang lain.

SIPA akan terus mencari dan mencari bentuk idealnya. Proses pencarian masih akan terus berlanjut hingga akan menemukan bentuk terbaiknya. Namun satu hal yang tidak akan pernah ditinggalkan adalah Spirit Solo sebagai ajang interaksi kultural yaitu konsep Solo Kota Budaya. Inilah yang akan selalu menjadi semangat dari proses pencarian bentuk yang ideal dari SIPA.

SIPA 2015 

SIPA tahun 2015 diselenggarakan pada 10-12 September 2015  mengangkat tema Live in The Contemporary World yang bermakna membawa seni tradisi ke masa modern. Dipilihnya Fajar Satriadi sebagai maskot SIPA, karena eksistensi dan keahliannya di bidang tari dari tahun 1990, sehingga beliau punya banyak pengalaman. Merupakan lulusan Institut Seni Indonesia Surakarta Program Studi S2. Beliau memulai kariernya dibidang seni tari pada tahun 1990 di Taman Budaya Jawa Tengah, dengan koreografer S. Pamardi “On and On”.

SIPA 2016 

Tahun 2016 ini SIPA hadir dengan tema Mahaswara. Tema tersebut sengaja diusung sebagai pesan kemanusiaan yang ditebarkan dalam panggung melalui keindahan seni pertunjukan yang menghadirkan beragam budaya bangsa dari berbagai penjuru dunia. Dunia membutuhkan swara atau suara. Apalagi jika itu menyangkut dengan suara kemanusiaan; seperti tentang suara perdamaian, pelestarian alam, persahabatan dan suara-suara kemanusiaan yang lain. Dari sanalah sesungguhnya harmonisasi kehidupan itu akan terus terjaga. 
SIPA 2016 kali ini mengusung sosok Peni Candra Rini sebagai maskot. Dosen ISI Surakarta ini merupakan komposer, pencipta lagu dan penyanyi tradisional.
Simaklah : Lion Air, Koneksikan Bali-Sulut ke Zhengzhou

SIPA 2017 

Bahari Kencana Maestro Karya adalah tema yang diusung dalam pagelaran SIPA 2017.  Sebuah persembahan pergelaran maha karya seni pertunjukan berskala internasional untuk gerakan menjaga, merawat dan mencintai laut (tentu juga samudera) untuk masyarakat Indonesia.
Demi mengusung semangat bahari, panggung SIPA: Bahari Kencana Maestro Karya akan menghadirkan panggung berbentuk kapal layar kebanggan Indonesia KRI DEWA RUCI. 
Maskot untuk pagelaran ini adalah Eko Supriyanto atau dikenal gengan Eko Pace.

SIPA Tahun ini

Dan di tahun 2018 ini, Perhelatan ini nantinya akan mengusung tema 'We Are The World-We Are The Nation'. Kegiatan akan digelar pada 6- 8 September 2018 di Benteng Vastenburg Solo.
Direktur SIPA Irawati Kusumorasri mengatakan SIPA telah diselenggarakan setiap tahun.
"Tahun ini merupaka gelaran ke sepuluh kalinya," katanya.
Kunjungilah : Intan Dituntut Multi Talenta 

Lewat Festival Dawet, Khasanah Baru Wisata Boyolali Bertambah

festival-dawet-dibal1


BOYOLALI,wartosolo.com-Ajang Festival Dawet Kemerdekaan #3 yang digelar di Lapangan Desa Dibal, Ngemplak, Boyolali, Minggu (26/8) berlangsung meriah. Ribuan warga Dibal sekitarnya tumpek blek di lapangan semenjak acara belum dimulai. Usai jalan sehat, 2.000 gelas dawet yang disuguhkan panitia dari Karang Taruna Wirataruna bersama Pemerintah Desa Dibal ludes diserbu peserta dalam hitungan detik. 
Kepala Desa Dibal Budi Setyono mengakui, kegiatan tahunan ini selalu dinanti warganya. "Sejak digelar tiga tahun berturut-turut, festival dawet selalu diserbu pengunjung yang mayoritas warga Dibal," katanya. Ia berharap, event yang akan datang digarap lebih optimal lagi.
Sementara itu, seksi acara Reno Edy mengungkapkan, pada event selanjutnya, kuantitas dan kualitas festival dawet akan dibuat lebih besar. "Rencananya malah melibatkan karang tarunan tingkat kecamatan," imbunya.
 Silahkan baca : Luar Biasa Festival Cheng Ho Sukses, 20.000 Tiket Terjual
Sementara itu, pelaku pariwisata Boyolali, Warsito mengungkapkan, keberadaan acara-acara yang mengangkat potensi lokal memberikan khasanah bagi kegiatan wisata di Boyolali. "Salah satunya festival dawet di Dibal ini," paparnya, kemarin. 
Dikatakan, bila setiap daerah di Boyolali bisa menonjolkan potensi daerahnya maka Boyolali akan memiliki beraneka ragam objek wisata. 
"Tidak saja potensi alam saja, tetapi events yang menonjolkan potensi khas pedesaan," imbuhnya.
Baca juga : Lion Air, Koneksikan Bali-Sulut ke Zhengzhou

Luar Biasa Festival Cheng Ho Sukses, 20.000 Tiket Terjual

cheng-ho-festival-2018


SEMARANG,wartosolo.com- Arak-arakan Perayaan Festival Cheng Ho di Kelenteng Agung Sam Poo Kong Semarang merupakan event berkelas internasional, yang sukses di gelar di Provinsi Jateng tahun ini.
Selama 11 hari, event tahunan ini berhasil mengundang 20.000 ribu pengunjung. Perayaan yang dilaksanakan sejak 9 -19 Agustus dipusatkan di Kelenteng Agung Sam Poo Kong, Jalan Simongan 129 Semarang ini didukung penuh oleh pemerintah pusat dan Pemprov Jateng. 
Mulyadi selaku Juru Bicara Yayasan Sam Poo Kong Semarang memaparkan tak butuh waktu lama 10.000 tiket yang dijual selama dua hari. 
Tak berhenti di situ saja, pedagang kaki lima kebanjiran order. Pasar Karetan yang ikutan pindah juga ikut kebagian rezeki. Itu belum termasuk hotel-hotel yang dijadikan tempat menginap bagi tamu yang datang.
“Perayaannya sudah memiliki cultural value yang tinggi. Sudah punya commercial value. Yang paling penting, memberi dampak ekonomi kepada industri dan publik,” tegas Mulyadi.
Rinaldie, selaku General Manager Sam Poo Kong Anandita mengatakan, Festival Cheng Ho sebagai bentuk penghargaan terhadap Laksamana Cheng Ho yang memberikan makna akan arti penting persatuan bangsa.
Akulturasi budaya Jawa dan Tiongkok yang ditinggalkan Laksamana Cheng Ho melahirkan tradisi budaya yang mempersatukan. 
”Festival merupakan bagian dari HUT Ke-613 Sam Poo Kong yang tahun ini bersamaan dengan HUT Kemerdekaan RI,” ungkapnya.
Kendati dilaksanakan setiap tahun, festival akan lebih menarik dan megah dibandingkan tahun sebelumnya. Sebab, tahun ini Festival Cheng Ho didukung Kementerian Pariwisata, dan bertaraf Internasional simak selanjutnya di website berbahas Inggris visit khatulistiwa
”Harapannya bisa membawa Kota Semarang ke kancah Internasional. Selain ritual sembahyangan, juga akan ada tampilan pertunjukan budaya, arakarakan, bakti sosial, dan bermacam lomba dengan total hadiah jutaan rupiah,” jelasnya.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pemprov Jateng, Alamsyah mengatakan/ festival Cheng Ho merupakan salah satu event unggulan pariwisata Jateng dan telah ditetapkan oleh Kemenpar sebagai 100 Wonderful Event. Pemprov melalui Disporapar Jateng mengapresiasi dan mendukung penuh event yang tumbuh dan berkembang dari budaya masyarakat.
”Kebersamaan dalam keberagaman dalam Festival Cheng Ho menjadi daya tarik Iuar biasa bagi pengunjung, baik domestik maupun mancanegara,” ungkapnya.
Simak juga : PT Pertamina TBBM Boyolali Launching Motif Batik "Lembu Patra" 

Dari Kumpul Bareng Mbak Duta Wisata Boyolali 2018

mbak-duta-wisata-boyolali

*Semula Tontonan, Kini Menjadi Tuntutan

BOYOLALI,wartosolo.com-Hendrawan Dwi S dan Misi Haryanti resmi dinobatkan sebagai Mas dan Mbak Duta Wisata Boyolali 2018. Di tangan mereka harapan agar potensi wisata dan nama Kabupaten Boyolali moncer di kancah nasional dan internasional. 
Sebagai dua pasangan duta wisata, Hendrawan Dwi S yang bekerja sebagai karyawan bank di Boyolali. Lalu Misi Haryanti, mahasiswi di jurusan Sastra Indonesia UNS Surakarta harus bisa menjadi pasangan yang menjadi tuntunan. Ibaratnya dulu sebagai tontonan. Kini Mbak dan Mas Boyolali harus bisa memerankan diri sebagai tuntunan.
"Ibaratnya, tontonan menjadi tuntunan," terang tokoh masyarakat Boyolali Endang Srikarti Handayani, Kamis, 2 Agustus 2018.
Tokoh masyarakat Boyolali ini saat berbicara dalam acara kumpul bareng Mbak Duta Wisata Boyolali 2018 di Desa Madu, Kecamatan Mojosongo, menyampaikan tolok ukur dari keberhasilan seorang duta wisata adalah menjalankan misi dan visi yang dititahkan kepadanya. 
Silahkan baca; Siswa Kelas X SMAN 2 Boyolali Digembleng Motivasi Wirausahawan 
Apalagi yang diemban adalah mengangkat nama daerah. Oleh karenanya Anggota DPR RI dari Partai Golkar ini berpesan agar Mbak dan Mas Duta Wisata memegang tolok ukur ini sebagai motivasi mengangkat potensi wisata Boyolali. 
"Semoga amanah yang sedang di delegasikan oleh Mbak dan Mas Duta Wisata Boyolali ini bisa diemban dengan baik. Keduanya adalah tunas bangsa harapan Boyolali dan tentunya Indonesia," imbuh Endang.
Bagi Umi Khasanah, warga Surowedanan, Pulisen Boyolali Kota. Mbak dan Mas Duta Wisata lekat dengan nama daerah. Mereka terus berkiprah dengan membawa nama baik daerah. Pada era modern ini, setiap daerah berlomba-lomba mengangkat nama wilayahnya masing-masing. "Semoga nama Boyolali, khususnya wisatanya kian terangkat dengan kehadiran mereka," kata Umi. 
Hendrawan Dwi S dan Misi Haryanti terpilih sebagai duta wisata setelah dalam babak penyisihkan ratusan peserta. Pada babak final keduanya menjadi yang terbaik versi juri dari 18 finalis. (red)
Baca juga : Dibantu Alsintan, Gapoktan Diminta Tingkatkan Produktivitas Pangan

Beragam, Pendapat Netizen Terkait Pembangunan Disneyland di Boyolali


BOYOLALI,wartosolo.
com 
- Publik khususnya di Boyolali, Jateng terhenyak dengan adanya wacana pembangunan Disneyland. Wacana yang dilontarkan Bupati Seno Samodro jelas menuai pro dan kontra. Khususnya netizen yang pro, proyek tersebut bakal memberikan manfaat. Seperti kata netizen bernama Muh Khanafi di akun fanpage https://www.facebook.com/groups/boyolalikab/
 
"Baguslah,untuk kemajuan suatu daerah,daripada dulu boyolali kyak kota mati,skrng lumayan," kata dia.   
boyolali-disneyland.jpg
Wahana Wisata Disneyland

Adapun, netizen yang kritis menyebutkan, bila wahana wisata itu dibangun dan dikelola dengan baik. Maka pendapatan yang masuk ke kas negara dan Pemkab Boyolali bisa dimanfaatkan untuk biaya pembangunan seperti infrastruktur dan lain. Beikut pernyataan netizen bernama  Wawan Ariyanto
"Terus  adakah komisi yang maasuk ke kantong pribadi,apakah nanti pjak dan komisi pembangunan wahana disasarkan ke pelosok yang jalannya masih banyak brlubang, atau untuk peningkatan aset asli wisata daerah, gali potensi aset wisata daerah aja kalau dari angka sekian triliun wah Boyolali tidak akan kalah dr karanganyar dari segi jalan dan tempat rekreasinya,_ semakin bayak wahana asing semakin asing boyolali dengan kesejukannya.," katanya.

Sementara netizen yang memakai nama Purwa Fouronetwo mengatakan, setuju dengan rencana itu karena positif namun perlu dicantumkan sejumlah syarat-syarat penting.
"Aku sih setuju-setuju aja...asal tidak ada yang korupsi dan yang jelas positif...
Tapi, a
pakah terlalu jorjoran kalau di bangun disneyland....padahal daerah yang lain d boyolali,bnyak jalan yang rusak dan fasilitas lainya yang dilengkapi dulu," kata dia.
disneyland-boyolali.jpg
Wahana wisata keluarga Disneyland
Habiskan Rp 6 Triliun 

Seperti diketahui Disneyland siap membangun wahana hiburan di atas lahan seluas 100 hektare di Boyolali pada semester ketiga 2017. Nilai investasi pembangunan tersebut mencapai Rp 6 triliun. Bupati Boyolali Seno Samudro mengungkapkan peletakan batu pertama pembangunan Disneyland akan dilakukan pada 1 September 2017. Menurut dia, pembangunan wahana hiburan tersebut bakal berlangsung selama dua tahun.

 "Nilai pembangunan sekitar Rp 5-6 triliun. Peletakan batu pertama pada September 2017," ujar dia. 
Adapun nilai investasi wahana hiburan ini seluruhnya berasal dari investor asing. Dalam pembangunan Disneyland, investor asing akan bermitra dengan pengembang lokal.Seno menuturkan kajian kelayakan sudah dilakukan pihak Disneyland. (*/) 

Beginilah Proses Revitalisasi Kali Pepe yang Kelak Dijadikan Ikon Solo



SOLO,wartosolo.com-Proses revitalisasi Kali Pepe mulai dikebut pengerjaanya dan saat ini sudah mulai kelihatan bentuk aslinya. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses pengerukan dasar sungai yang bermuara di Bengawan Solo. Kegiatan yang paling menonjol terlihat di antaranya pemasangan kawat besi pondasi sungai di timur RS Brayat Minulya. Sejumlah pekerja dengan helm proyek, berompi nampak tekun membuat pondasi, sementara dasar kali  bagian selatan dibendung untuk mengalirkan air.

revitalisasi-solo-pepe-kali
Ikon Solo
Kelak, ada tiga paket pekerjaan Kali Pepe yang diselesaikan. Pertama pengerjaan bagian hulu mulai dari Boyolali hingga Bendung Karet Tirtonadi. Kedua, Kali Pepe Hilir dari Bendung Karet Tirtonadi sampai Demangan serta yang terakhir pembangunan parapet Bengawan Solo dari Jurug sampai Mojo.
Nah, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) sebagai pihak yang berwenang dalam proyek fisik ini mentargetkan revitalisasi Kali Pepe berakhir pada 2018. Mengingat jadwal pelaksanaan revitalisasi Kali Pepe berlangsung hanya selama 27 bulan

Magnet wisata

Begitulah kira-kira proses pengerjaan proyek teranyar yang kelak bakal disyukuri khususnya warga Solo sebagai ikon kota, dan umumnya masyarakat luas ?


Lalu bagaimana dengan perkiraan hasil akhir dari proyek revitalisasi hingga menjadi wahana wisata baru di kota berjuluk Bengawan itu ? 
Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo menuturkan, ada potensi menggiurkan dari sungai yang membelah kota Solo mulai dari utara hingga ke timur itu. Misalnya saja potensi budaya ekonomi yang tinggi yang diperoleh dari wisata airnya.
Rudy menuturkan proyek yang digelar sejak 2015 lalu bisa menjadi magnet wisata baru di Solo 
"Wisata air telah dimulai digarap dari BRI Jalan Jenderal Sudirman hingga belakang Pura Mangkunegaran. Taman Keprabon ini masuk menjadi salah satu penataan Kali Pepe,” kata Rudy panggilan wali kota.
Begitulah kira-kira mengapa proyek revitalisasi bisa menjadi perhatian masyarakat dan khususnya media massa baik cetak maupun elektronik.  (*/)



revitalisasi-kali--solo-pep
Proyek pengerukan


Mengenal Lebih Dekat dengan Gedung DHC 45 Solo

Gedung-DHC-45-Solo
Plakat gedung HDC

SOLO,wartosolo.com- Apabila anda melintas di depan Beteng Trade Center (BTC) ataupun Pusat Grosir Solo (PGS), keaarah timur di kanan jalan anda akan mendapati sebuah bangunan tua peninggalan sejarah. Bangunan tua tersebut adalah gedung DHC 45 yang saat ini digunakan sebagai kantor sekertariat para veteran di Kota Solo. Untuk mengetahui sejarah kapan berdirinya gedung ini. Berikut tulisannya yang diirai panjang lebar dengan narasumber seorang veteran sekaligus anggota dewan harian DHC 45. 

Inilah gedung Dewan Harian Cabang (DHC 45) Solo. Gedung ini tampak masih berdiri kokoh. Bangunan tua ini sekarang digunakan sebagai kantor para veteran di Kota Solo. Kondisinya juga masih tampak begitu terawat, meskipun ada beberapa tembok yang sudah berlumut lantaran termakan zaman.
Gedung yang termasuk dalam bagunan cagar budaya (BCB) tersebut, sebelumnya juga sempat dilakukan revitalisasi lantaran ada beberapa bangunan yang runtuh. Namun bangunan ini tetap dikembalikan pada bentuk awalnya, lantaran sudah masuk dalam bangunan cagar budaya. 

Solo-Gedung-DHC-45
Arsitektur kuna HDC

Kini beberapa bagian bangunan bersejarah tersebut juga difungsikan sebagai museum perjuangan, galeri seni, serta tempat jajanan kuliner khas Solo. 
Sujinto selaku ketua DHC 45 menyampakan, bahwa berdasarkan sejarah, menurut riwayat gedung DHC 45 didirikan pada 1876. 
"Awalnya gedung tersebut adalah sekolah dan asrama yang dibangun pemerintah kolonial Belanda sebagai pelengkap kompleks militer Benteng Vasternburg, Pada massa pendudukan Jepang, gedung tersebut kemudian dijadikan markas tentara Jepang  dengan sebutan Senkokan. Setelah berhasil direbut kembali oleh TNI gedung tersebut kemudian secara berurutan sempat difungsikan sebagai panti asuhan markas kesatuan TNI dan akhirnya dipakai untuk kantor para pengurus DHC 45," urainya.,

Bangunan militer

Seperti bangunan lama pada umumnya gedung ini belum mengenal sistem tulang di tiap sudutnya seperti yang dikenal sekarang berupa beton atau baja. Hanya ada batu bata yang saling berkaitan dan terdiri atas dua lapis susunan bata. "Itu sudah cukup menjadi tulang dan membawa bangunan ini bertahan melewati panas-hujan selama ratusan tahun, " terang Sujinto.
Solo-DHC-45-Gedung
Halaman gedung HDC
Gedung DHC 45 ini merupakan bangunan militer paling efektif pada eranya. Seperti yang terlihat satu-satunya material di samping batu-bata yang didominan dalam konstruksi ini kayu. Struktur kayu-kayu besar terlihat jelas begitu anda masuk ke-dalam ruangan utama bagian tengah, terutama jika kepala mendongak ke-atas.
Selain sebagai bahan utama kusen, pintu, dan jendela, seluruh tiang di gedung DHC 45 ini dibuat dari kayu. Peran kayu ini sangat dominan mengingat gedung ini memiliki dua lantai. Di lantai 2 termasuk balkon, peran kayu sangat besar mulai dari lantai, rangka lantai, tiang, tangga, hingga rangka atap.
Dari bentuknya gedung yang berdiri sejak 1876 ini memang didesain untuk mendukung kepentingan militer. Lokasinya yang berada di sebelah selatan Benteng Vasternburg membuat bangunan ini strategis bagi strategi penguasaan kota ala pemerintah kolonial Belanda saat itu.
Dalam perkembangannya ruang-ruang besar ini tak terawat sebelum direvitalisasi. Halaman belakang juga hanya dimanfaatkan untuk parkir becak dan gerobak pedagang kaki lima. Bangunan ini juga merepresentasikan arsitektur yang cocok untuk iklim tropis seperti Indonesia.
Jendela yang tidak terlalu besar dan langit-langit yang cukup tinggi membuat bangunan ini tidak panas, meski tanpa ac. Meskipun demikian, bangunan ini merupakan bangunan yang sangat fungsional di zamannya.
Itulah sedikit gambaran serta sejarah gedung DHC 45 Solo. Dan diharapkan kedepan gedung bersejarah ini /bisa menjadi satu pusat edukasi sejarah di Kota Solo. 
45-Solo-Gedung-DHC
Sisi lain bangunan HDC

DHC-45-Solo-Gedung
Tangga unik bangunan HDC

Objek Wisata Bernama "Jeglogan Sewu'' ini Tiba-tiba Jadi Bahan Perbincangan Netizen



KARANGANYAR,wartosolo.
com-Apakah anda berimajinasi objek wisata ini indah, sedap dipandang mata dan wajib dikunjungi pada akhir pekan ? Wauw, anda pasti salah besar ! Anda malah disarankan jangan sekali-sekali mendatangi lokasi ini. Apalagi mengendarai kendaraan dan melewati sebuah jalan di Kelurahan Wonorejo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Loh kenapa demikian ? Kenapa tidak boleh dilalui ? Jawabnya, boleh kok lewat ?
Nah, syaratnya  khusus bagi anda yang suka adventure atau petualang bolehlah melewati atau mendatangi lokasi tersebut. Bahkan disarankan silahkan lewat setiap hari. Namun bagi anda pemilik kendaraan roda empat dan roda baru yang masih baru keluar dari pabrik, SETOP jangan sekali-sekali melintas, ya. 

jeglongan-sewu
Jalan rusak di Karanganyar

Pasalnya objek ini hanya bisa dilalu kendaraan roda dua atau empat. Maaf bagi sepeda atau becak, nekat dijamin velg penyok atau ban kempes hingga meletus. 
Bagi kendaraan yang melintasi. senssinya adalah bisa lenggak lenggok. Jalan zig zag, jok mental mentul seperti off road dan yang jelas tidak menguji Adrenalin melainkan kantong kita. Di bawah ini adalah kesaksian mereka yang nekat beradventure di wsiata "Jeglongan Sewu"/.
Seperti yang dialami netizen bernama Fitrianto. Di halaman grup facebook Info Cegatan Solo, ia mengaku menjadi korban keganasan ''Jeglongan Sewu". Velg kendaraan roda duanya sampai penyok. "Korban wisata Jeglongan seribu lur ...," celotehnya di Fanpage tersebut.
Netizen lain bernama Zakariy menuturkan, objek wisata dadakan itu dipopulerkan warga lewan media sosial karena memang layak dipublikasikan. Dengan harapan masyarakat bisa memperhatikannya atau mendoakan agar objek wisata itu ditutup.

Bagi pemerintah, ia berharap, agar sekali-sekali datang ke objek wisat tiban ini.
sewu-jeglongan
Korban jalan rusak
"Monggo lur wisata jeglongan Sewunya dibuka lagi, wahana wisatanya tambah banyak ..Bar digebyur banjir ndek bengi ... Foto asli Tulung dibantu UP ben pemerintah e mampir golek hiburan wisata
Suwun ..Lokasi "sepanjang jalan ceplukan - Jetak"
Simak Juga : http://www.wartosolo.com/2017/02/unik-jalan-bak-kolam-renang-warga-sewakan-ke-pengguna-jalan.html

Menurut penelusuran www.wartosolo.com, objek wisata ''jeglongan sewu'' ini hanyalah sentilan warga mengkritik atas kondisi jalan di sekitar rumahnya yang rusak parah. Hingga beberapa bulan jalan yang vital bagi aktivitas warga itu dibiarkan rusak. Warga mendesak pemerintah setempat menaruh perhatian atas infrastruktur jalan di wilayahnya. (*/)

* Foto-foto : medsos

 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>