Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » , » Sukses Besar, Pertunjukan 10 Dekade SIPA

Sukses Besar, Pertunjukan 10 Dekade SIPA

Posted by WARTO SOLO on Minggu, 09 September 2018

solo-sipa3

SOLO,wartosolo.com - Solo International Performing Arts atau SIPA telah digelar sejak 5-8 September tahun ini. Berlangsung di Benteng Vastenburg seperti tahun-tahun sebelumnya, SIPA mampu mendatangkan lebih dari 10 ribu penonton setip harinya.
 Memasuki penyelenggraan yang ke-10, SIPA mengusung tema 'We Are The World - We Are The Nations'. Sebanyak 17 delegasi dari 7 negara hadir menyambut 10 tahun SIPA. Wow, jumlah delegasi yang fantastis karena delegasi-delegasi ini memiliki namanya di negaranya. 
Ke-17 delegasi adalah Supa Kalulu Music of Zimbabwe and Beyond (Zimbabwe), Capitol University Dance Troupe (Filipina), Stefano Fardeli (Italia), Filastine and Nova (Spanyol), Liene Roebana Dance Company Belanda dan Chinese Touth Goodwill Association (Taiwan). 
Delegasi Tanah Air tak mau kalah pamor, ada Flying Balloons Puppet (Yogyakarta), Gilang Ramadhan (Jakarta) feat Smiet (Palu), Studio Taksu (Solo), Boogie Papeda dan Komunitas Street Pass (Papua), Melati Suryodarmo (Solo), Holobis (Solo), Citra Buranteni Putri (Bandung), Komunitas Seni Jati Swara (Surabaya), Suling Bambu Dasarai Lamaknen, Belu, Atambua (NTT), Diklat Tari Anjungan Jawa Timur, TMII (Jakarta, serta Departemen Pendidikan Tari FPSD UPI (Bandung) dan Park Na Hoon (Korea). 
Bacalah : SIPA 2018 Spectacular !!! 
Hal fantastis dari puncak acara SIPA 2018 adalah durasinya. Jika biasanya SIPA dimulai sekitar pukul 19.00, kali ini pertunjukannya bisa disaksikan lebih awal, yakni pukul 16.00 WIB. Tujuannya tak lain adalah memberikan waktu lebih bagi penonton untuk menyaksikan penampilan seniman.
Bagi seniman yang tampil, memiliki waktu yang lebih longgar dalam menampilkan karya terbaiknya agar bisa memuaskan penonton. Segi non-teknis yang menguntungkan dari satu dekade SIPA ini faktor cuaca. 
Selama digelar tiga hari, langit di atas Kota Solo cerah. Kegiatan di tempat terbuka pun berlangsung tanpa kendala teknis dan non-teknis.  

Pembukaan 

Rangkaian SIPA dimulai pada awal September. Ya karen SIPA kali ini berlangsung lebih spesial. Ada event penting, SIPA Goes to Cafe digelar 4-5 September. Widya Ayu Kusumawardani dan Tutut Tuty menahkodai SIPA Goes to Cafe. Program berikutnya ada SIPA Goes to Campus yang digelar di Auditorium UNS pada Rabu (5/9) dan menghadirkan Danilla Riyadi. 
Pada pembukaan SIPA, seniman asal Solo, Melati Suryodarmo giliran menggebrak. Maskot SIPA 2018, ini berkolaborasi dengan sanggar Semarak Candrakirana, Studio Plesungan, dan SMKI. Mereka akan diiringi lebih dari 30 pemain musik dari Etnomusikologi ISI Surakarta.
Melati yang sudah belasan tahun berkesenian di Eropa, membuka acara dengan paduan seni tari dan musik kontemporer. Berkolaborasi seniman tuan rumah menyuguhkan tari kolosal bertema Jemparingan alias Panahan.
“Saya hanya ingin menampilkan karya,  yang berpesan mengenai penghargaan akan keberagaman,” ujar Melati usai tampil. 
berikutnya, tampil pertunjukan Suling Bambu Dasarai Lamaknen, dari Kabupaten Belu, Atambua, NTT. Berturut disusul penampilan Studio Taksu asal Solo, Chinese Youth Goodwill Association dari Taiwan, serta Gilang Ramadhan yang berkolaborasi dengan seniman asal Palu, Smiet.
Elisabeth (48), penonton asal Darwin Australia yang mengajak temannya dari Australia mengaku terkesan. Elisabeth mengaku sudah 3 bulan berada di Solo untuk urusan bisnis.
"Saya suka pertunjukkan seni seperti SIPA ini. Kebetulan maskot tahun ini (Melati Suryodarmo) pernah saya tonton pertunjukannya saat berada di Jerman," tuturnya dalam bahasa Indonesia.
Simaklah : Luar Biasa Festival Cheng Ho Sukses, 20.000 Tiket Terjual

Penutupan 

Tapi, sungguhan spesial yang bisa dinikmati penonton dari penjuru Indonesia adalah pada malam terakhir. Filastine and Nova yang didapuk menutup acara itu tampil menawan. Filastine and Nova merupakan duo seniman asal Spanyol yang menampilkan drapetomania. Drapetomania sendiri berupa pertunjukan musik eksperimental yang meleburkan unsur akustik dan elektronik di dalam musiknya.
Uniknya, di dalam musik Felastine and Nova akan terdengar musik khas dari berbagai negara, termasuk gamelan Jawa.
Selain itu, ada juga pertunjukan tari berjudul "Touching Unknown People" yang merupakan hasil kolaborasi koreografer asal Indonesia Ayo Sunaryo dan Korea Selatan Park Na Hoon.
Dibawakan oleh 10 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tarian tersebut merupakan gabungan antara gerakan khas Korean Pop (KPop) dan tarian khas Jawa Barat.
Tarian ini menceritakan tentang bertemunya orang-orang baru, tidak ada perbedaan warna kulit, perbedaan agama dan budaya tetapi kita adalah manusia. Pesan yang ingin disampaikan adalah kesatuan di dunia, satu kesatuan di dunia dan harus saling berinteraksi.
Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI memberikan apresiasi positif terhadap penyelenggaraan SIPA tersebut. Kepala Bekraf Triawan Munaf berharap pelaksanaan SIPA dapat mempercepat perkembangan subsektor seni pertunjukan di Indonesia. Lihat versi bahasa Inggrisnya situs wisata di visit khatulistiwa.
Berdasarkan data, kata dia, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun 2017 sekitar Rp1.000 triliun. Sedangkan sumbangan industri kreatif Indonesia terhadap PDB pada 2016 mencapai Rp922 triliun.
"Artinya rata-rata kenaikan per tahun mencapai Rp70 triliun. Diharapkan melalui kegiatan seperti ini dapat meningkatkan sumbangan industri kreatif Indonesia terhadap PDB," katanya.  (Berbagai sumber)
Kunjungi juga : Macrame Lukitri Ernarayani Terbang Sampai Dubai

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>