Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » , » Makanan Langka ini masih Ditemui di Klaten, Penjualnya Nenek Munari

Makanan Langka ini masih Ditemui di Klaten, Penjualnya Nenek Munari

Posted by WARTO SOLO on Sabtu, 20 Januari 2018

gulali-klaten-1.jpg


(KLATEN,wartosolo.com) - Tak mudah bagi Mbah Amat Munari untuk bisa menjual dagangannya. Tak hanya masa kejayaan  yang sudah mulai memudar, pelanggan setianya pun juga sudah mulai meninggalkan jenis jajanan yang berjaya di era 90-an. 
Ya, inilah sosok Mbah Amat Munari. Nenek 83 tahun ini dengan telaten berjualan gulali sutra, atau sejenis kembang gula tradisional yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad. Hampir setiap hari, nenek berkrudung ini menempuh perjalanan hampir 15 kilometer dari kediamannya.  Usianya yang sudah senja, membuat nenek dengan enam anak inipun harus antar jemput oleh cucunya. 

"Sudah tidak kuat jalan jauh. Kalau pagi diantar, dan  kalau sudah sore dijemput putu (cucu) saya," ucap nenek yang mengenakan stelan batik dan jarik. 

BACA : Evie Pilih Bantu Suami Lewat Bisnis Makanan Beku

Terlihat,  nenek yang memiliki nama kecil Munari itu membuka lapak jualannya di sudut kecil disebuah rumah makan pemancingan di Janti, Kecamatan Polanharjo, Kabupate Klaten, Solo, Jawa Tengah. Ia pun setiap hari mengandalkan berjualan gulali sutra dari mereka yang tengah berwisata dengan keluarga maupun rekan sejawat. 
Diakui warga Sidorejan, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali, untuk berjualan gulai saat ini tidak mudah. Sebab, mereka yang akrab dengan jajanan yang ada sejak tahun 60-an itu sudah banyak yang meninggal dunia. Meskipun masih ada pelanggan setia, mereka adalah gerenasi kedua maupun ketiga dari usianya. 
"Yang jajan (beli) banyak yang sudah tua, katanya inget jajanan waktu kecil dulu. Tapi ada pula anak muda yang beli, tapi tidak banyak jumlahnya," ungkap Munari. 

gulali-klaten-2.jpg

laba pahit

Berjualan gulai sutra di jaman yang sudah berganti banyak tantangannya. Disamping banyak saingan jajanan dan makanan modern, berjualan gulali sutra membutuhkan ketelatenan  dan  kesabaran tersendiri. Terlebih jika musim penghujan tiba, mereka yang akan liburan maupun makan di  rumah makan yang setiap hari dijadikan tempat berjualan pun kian sepi. 
Dalam sehari, nenek yang satu ini rata-rata mampu membawa pulang  uang tunai sampai Rp 200 ribu. Pendapatan yang didapatkan itu pun tidak sepenuhnya keuntungan, karena masih harus dikurangi modal yang digunakan untuk berbagai kebutuhan membuat gulali sutra. Namun, jika tengah bernasib baik saat jualannya ludes, Munari mampu meraup untuk bersih hingga Rp 150 ribu. 
"Banyak sedikit disyukuri, yang penting bisa buat ngopeni Mbah kakung (merawat kakek). Sekarang jualan gulali itu rasanya manis, labanya pahit. Beda kalau dulu," paparnya. 
Untuk membuat gulali sutra, nenek yang satu ini meracik sendiri berbagai bahan bakunya. Seperti gula pasir murni, tepung beras ketan, kelapa, serta dicampur pewarna. Untuk bisa mendapatkan gulali sutra yang enak, dirinya harus memastikan jika gula pasir yang digunakan benar-benar murni, demikian juga tepung ketan. "Kalau  ketannya tidak asli, hasilnya juga berbeda," imbuh Nenek yang mengaku sudah berjualan  sebelum tahun 1960 . 

gulali-klaten-3.jpg

Ada perbedaan yang sangat kontras dalam perkembangan julan gulali sutra, sebagai salah satu jajanan tradisional seperti dirinya. Salah satu kendala yang dialami adalah mahalnya  bumbu (obat) sebagai resep tambahan membuat gulali. "Obatnya sekarang mahal, dulu hanya Rp 6 ribu, sekarang sudah Rp 32 ribu," jelas Munari. 
Di usianya yang  sudah memasuki kepala delapan, dirinya mulai menyiapkan putranya untuk melanjutkan berjualan gulali. Namun, dari enam putra yang dimiliki, satupun tidak ada yang mau menggeluti berjualan seperti dirinya. Tidak hanya karena enggan berjualan, ketrampilan membuat gulali juga tidak dikuasi putranya. 
"Besuk yang mau mewarisi jualan gulali malahan menantu saya. Kalau  anak-anak saya tidak mau semua. Satu tusuk gulali ini saya jual Rp 2 ribu," pungkasnya. (hrn) 

SIMAK JUGA :  Reni Widyawati, Wakil Rakyat yang Juga Ahli Bikin Roti

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>