Inspirasi

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Kesulitan Tenaga Kerja, Sanggar Wayang Kulit Solo Eksis Berproduksi

Post by On Saturday, April 15, 2017


SOLO,wartosolo.com- Pelaku usaha kerajinan wayang kulit sanggar art di Kota Solo hingga kini masih eksis berproduksi. Hernot Sarwani, salah satu perajin warga Sondakan Laweyan Solo Jateng mengatakan, bisnis seni sungging kerajinan wayang kulit yang digeluti sejak 1990 hingga sekarang ini memang spesial. Tidak saja kesulitan mendapatkan tenaga kerja berkeahlian khusus seni sungging. Bisnis ini juga mengalami kesulitan dalam mencari beberapa item bahan baku membuat wayang. 
perajin-kulit-wayang
Hasil karya wayang kulit


Kerajinan wayang kulit tersebut sangat rumit dan perlu ketelitian mulai dari menatah bahan baku kulit yang memerlukan waktu cukup lama. Oleh karena itu setiap satu wayang kulit harganya relatif mahal, sesuai dengan kerumitan dan bahan dalam proses pembuatannya.
Harga satu wayang kulit ini bisa mencapai lima juta rupiah lebih hal ini dikarenakan wayang tersebut dibuat dan diberi warna lapisan kuning beserta emas asli seperti tokoh pewayangan Brojo Dento.
Bahan baku untuk membuat wayang kulit yakni kulit kerbau, menurutnya tidak ada kesulitan dan di Kota Solo cukup tersedia. Namun harga kulit kerbau yang sudah diolah untuk bahan baku wayang kulit, kini cukup mahal dan gagang wayang kulit yang terbuat dari tanduk yang juga sering disebut gapit kini harganya juga sangat tinggi.
wayang-kulit-perajin

Oleh karena itu harga wayang kulit kini menjadi mahal dan jumlah perajin pun kini juga mulai berkurang. Pelanggan kerajinan wayang kulit produksinya merupakan sejumlah dalang dari Yogyakarta, dan Jawa Timur termasuk Ki Timbul dan Ki Sutikna. Bahan kerajinan wayang kulit juga sudah sampai ke luar negeri melalui wisatawan asing dari Perancis, Australia, dan Amerika Serikat. 
Meskipun kerajinan wayang kulit produksinya tidak bisa banyak barangnya, tetapi bisnisnya masih terus berjalan lancar, dan tetap eksis hingga sekarang untuk tetap bertahan melestarikan seni budaya Jawa. Dalam keseharian Hernot biasa dibantu oleh sejumlah tenaga kerjanya yang membantu memproduksi wayang kulit di rumah masing-masing. Menurutnya membuat wayang kulit semacam ini merupakan hobi yang sudah disukainya sejak duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). 



Silahkan berikan masukannya di kolom komentar. Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, jangan lupa untuk mengKLIK tombol share agar semua orang tahu...
Klik juga 
Ikuti akun twiter  (https://twitter.com/wartosolocom)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »