Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » , » Monumen Gempa Bumi 2006, Monumen Pengingat Bencana Gempa Cepokosawit

Monumen Gempa Bumi 2006, Monumen Pengingat Bencana Gempa Cepokosawit

Posted by WARTO SOLO on Senin, 06 Februari 2017


BOYOLALI,wartosolo.com - Nama monumen ini terbilang unik. "Monumen Gempa Bumi 2006." Berlokasi di areal persawahan Desa Cepoksawit, Sawit, Boyolali. Monumen ini dibangun atas prakarsa masyarakat dan didanai dari swadaya warga dan para perantau. "Monumen Gempa Bumi 2006", didirikan sebagai simbol kebangkitan warga atas bencana alam yang pernah terjadi di wilayahnya belasan tahun silam. Tepatnya pada, Sabtu, 27 Mei 2006 gempa bumi berkekuatan berskala 5,9 Richter melanda Cepokosawit. Dampaknya 202 rumah hancur, 499 rumah rusak parah. Sekitar 917 orang yang menjadi pengunsi karena permukiman mereka roboh atau rusak parah. Warga di 12 Dukuh menjadi korban atas peristiwa alam ini. 

monumen-gempa-bumi-2006
Monumen gempa
Menurut Soekoyo, tragedi gempa bumi tak akan dilupakan oleh para korbannya. Oleh karenanya prastasi yang dibuatnya ini bisa menjadi pengingat telah terjadi gempa bumi dahsyat yang membuat trauma warga. Monumen ini juga juga menjadi pertanda korban gempa tetap bangkit dan membangun kembali rumah mereka yang rusak. “Monumen ini sebagai kenang-kenangan bagi warga, disini pernah terjadi gempa. Ketika membangun rumah bisa membuat bangunan menyesuaikan anti gempa,” kata dia.
Keunikan lain dari monumen ini terletak dari sisi arsitekturnya. Monumen ini terdiri atas beberapa bagian dan masing-masing memiliki filosofi tersendiri. Pada bangunan depan yang tertulis angka 2006, menggambarkan tahun peristiwa gempa. Adapun bola bumi bermakna dari gempa bumi. Adapaun tanda 27 lembar daun di bagian sayap bermakna tanggal kejadian gempa, lima buah bulatan di bawah bola dunia menggambarkan bulan kejadian dan gambar lima kotak segi empat pada bagian sayap monumen mengartikan waktu kejadian gempa.
Soekoyo menambahkan, adanya 12 kotak berbentuk segi empat bermakna jumlah dukuh di Desa Cepokosawit, 12 gambar bunga sakura di tengah bermakna jumlah dukuh. Tiga pola gambar bermotif bunga di bagian bawah mengartikan tiga dukuh paling parah terkena gempa dan sembilan gambar bulatan bermakna jumlah dukuh yang terkena gempa.
Ke depan, panitia setempat bakal membangun sebuah monumen berisi beberapa benda yang menjadi saksi peristiwa gempa dan sejumlah benda milik warga. Diharapkan bangunan monumen ini bisa menjadi tempat wisata pendidikan. (*)

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>