Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » » Ini Alasan Gatsu Solo Bisa Saingi Malioboro Jogja

Ini Alasan Gatsu Solo Bisa Saingi Malioboro Jogja

Posted by WARTO SOLO on Sabtu, 21 Januari 2017


SOLO,wartosolo.com-Saat ini kawasan Malioboro Yogyakarta sudah menjelma sebagai kawasan yang amat ramah terhadap pejalan kaki. Pedestriannya dibuat lebar dan memanjang dari utara (dekat Stasiun Tugu) hingga ke selatan (Kantor Pos Besar). Lampu-lampu dibuat terang benderang pada malam hari, dan tak ada satu pun kendaraan roda dua dan empat parkir di pedestrian. Seluruh kendaraan diparkir di tempat yang tersedia. 


gatsu-solo-jogja
Lokasi pejalan kaki
 Di sepanjang Malioboro, tepat pejalan kaki beristirahat tersedia cukup banyak, ada kursi-kursi permanen, taman kecil yang dibangun untuk memanjakan pejalan kaki. Khusus pedagang kaki lima, alat angkutan tradisional seperti becak, andong tetap diberikan tempat khusus di bahu kanan jalan. Bayangan Malioboro bak pedestrian ala kota-kota besar di luar negeri sudah di depan mata dan tinggal dipertahankan lalu dipoles sedikit-sedikit. Nah, lalu bagaimana dengan kota tetangga Yogyakarta, yakni Kota Solo ? Bagi Solo sendiri, pembangunan pedestrian yang amat memanjakan pejalan kaki sedikit terlambat di bandingkan Kota Gudeg. Saat ini proyek yang dikerjakan Pemkot Surakarta baru tahapan desain dan penataan pedestrian yang dipusatkan di Jalan Gatot Subroto (Gatsu). Prosesnya yang cukup lama, (dimulai dari Agustus 2016) sampai sekarang baru memasuki penataan dan pembersihan jaringan kabel, telepon, PLN dan penataan parkir. Atau masih jauh bila dibandingkan dengan yang sudah jalan di Maliboro sana.
jogja - gatsu-solo
Area pejalan kaki
Hanya saja, ada satu keistimewaan yang bakal diciptakan dari kawasan yang disebut Koridor Gatot Subroto (Gatsu) ini dibandingkan dengan kawasan serupa di Malioboro. Koridor Gatsu setelah purna-proyek kelak, bakal lebih memanjang, dimulai dari depan Pura Mangkunegaran- Kawasan Singosaren-Coyudan-hingga Keraton Surakarta. Bentuknya yang mirip letter L ini memberikan variasi bagi pejalan kaki yang akan memulai perjalanan. Itu pont pertama ! Kedua, kalau tidak salah di sepanjang Gatsu, para pejalan kaki jelas akan dimanjakan pemandangan perkotaan yang modern seperti pusat perbelanjaan lebih besar, perkantoran, perhotelan, dipadupadankan dengan desaiin kota yang bernuansa Jawa. Dan ketiga, seandainya dinas tata ruang kota setempat cerdas dalam melakukan dekorasi kawasan ini, maka Koridor Gatsu akan lebih menawan bila diterangi lampu warna-warni, lokasi berselfie ria, dan sejumlah pemandangan lainnya ala kota besar di luar negeri, seperti Seol (Korsel) Tokyo (Jepang) dan Singapura. Kelengkapan-kelengkapan semacam ini yang kelak bakal mengalahkan Maliboro bila dipenuhi secara massiv oleh stakeholder. Dan yang keempat adalah keuntungan, kawasan Gatsu yang terletak di jantung Kota Bengawan ini pada malam hari tak ada masalah dengan kemacetan. Berbeda dengan Maliboro, pada malam hari dan bersamaan dengan puncak liburan. Kemacetan di mana-mana dan penuh sesak. Berbeda halnya dengan keberadaan Gatsu, dimana lokasi parkir baik kendaraan roda empat dan roda dua tersedia di mana-mana. So, dari sekian banyak argumentasi itu apakah akan mulus diaplikasikan di lapangan ? Jelas, setiap lapisan masyarakat bisa mengamati dan menyaksikan mulai dari sekarang. Banyak media yang bisa dimanfaatkan mulai dri media massa cetak, elektronik, media sosial atau wahana lain.
Intinya, Pemerintah Kota Surakarta sudah mencium akan keunggulan Koridor Gatsu, tinggal bagaimana tahapan-tahapannya dimulai dan diakhir dengan baik. Lalu masyarakat dan pelaku di lapangan bisa mengelolanya agar bisa sejajar dengan Maliboro. Allahualam ! ((*/)

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>