Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » » Bekgor Sargede dan Sepenggal Kisah Mbah Atmo

Bekgor Sargede dan Sepenggal Kisah Mbah Atmo

Posted by WARTO SOLO on Kamis, 22 September 2016



SOLO,gladaksolo.com- Anda tak akan rugi bila sudah berlangganan dan menjadi konsumen tetap di warung makan Bebek/ayam goreng Pasar Gede (Bekgor) Solo, Jawa Tengah. Diuntungkan dengan mencicipi menu khas Solo bercita rasa bintang lima, hingga perut tak lagi berontak menahan lapar. Tempat makan yang memiliki nilai historis tinggi, sehingga bakal menjadi tempat bernostalgia. Pun dibumbui dengan pelayanan pemilik warung yang prima.
Anda juga bisa mendapatkan cerita tentang salah satu pelanggan di warung ini yang bisa dikatakan unik, nyentrik, dan berkelas.
bebek-solo-goreng-gede-pasa
Bebek goreng khas

Nah beruntung, saat wartosolo.com mampir untuk melahap menu bebek goreng yang renyah dan kaya rempah-rempah itu. Sang pemilik warung, Mas Birin bersedia menceritakan pelanggannya emasnya hampir satu persatu.
Bermula saat 2000-an melayani menu kuliner ini di tepi Jalan Jenderal Sudirman (utara Bundaran Gladag), ada pelanggan tetap yang kesengsem dengan sajian bebek goreng buatanya. Saking kecintaan dengan menu itu. Dalam sepekan bisa setiap hari, pelanggan yang bernama Mbah Atmo yang berdomisili di wilayah Kebakkramat, Karanganyar, Jawa Tengah dan itu memesan bebek goreng atau ayam goreng.
bebek-gede-goreng-pasar-sol
Pelanggan makan bersama 
Saat pindah ke emperan toko di Pasar Gede Solo, aktvitas kunjungan Mbah Atmo tak surut malah makin keranjingan lagi. Nenek sepuh ini mengajak serta, putra, cucu, dan keponakan-keponakan naik mobil ke Solo untuk ''ngiras''. Saat pulang, Mbah Atmo tidak lupa membungkus beberapa menu untuk dibagikan kepada orang rumah, dan tetangga-tetangga. "Bisa njenengan hitung berapa nominal uang yang dikeluarkan untuk memborong dagangan saya," kata Birin.


Dianggap Biasa

Pada awalnya Birin, dan orang tuanya sempat tak menghiraukan hal itu, dan menganggap Mbah Atmo tak beda dengan pelanggan lain. Namun, kedatangnnya yang bisa dikatakan tiap hari sejak membuka lapak di Jalan Jenderal Sudirman hingga pindah ditepi Jalan Urip Sumoharjo membuat Birin terkesan dan amat menghormati pelanggannya ini. Sehingga pendekatan secara personal pun terus dilakukan untuk memberikan penghormatan dan pelayanan yang terbaik.
"Saya kenalnya beliau sebagai ahli tulang (sangkal putung). Terus gemar makan bebek. Karena suka dengan masakan di sini, akhirnya sering memborong bebek atau ayam goreng. Katanya sesampai dirumah bungkusan makanan itu dibagi-bagikan. Kedermawanannya memang pantas dipuji," pujinya.
Hal nyentrik yang ditiru Mbah Atmo ini adalah kepeduliannya dengan sekelilingnya. Meski Warung Bekgor Sargede bukan miliknya, tetapi ia rela merogoh uang dan memberikannya kepada para pengamen dan pengemis yang datang ke lapak itu. Hanya saja uang pemberian itu tak langsung diserahkannya, tetapi dititipkan lewat pemilik warung. Ini yang berkelas !
bebek-goreng-gede-pasar-sol
Makan pinggir jalan 
"Karena kebijaksanaan ini, warung kami kadang bebas pengamen. Mungkin saja pengamen dan pengemis sungkan datang, karena pada bersamaan Mbah Atmo sedang makan," tutur Birin.

Pelanggan Tetap

Pria asli Solo ini mengaku respek dengan Mbah Atmo. Di Kota Bengawan dan sekitarnya, sudah terlalu banyak pedagang bebek goreng dari kelas pedagang kaki lima, warung makan, hingga restoran yang memiliki nama besar. Namun Mbah Atmo setia datang ke lapaknya. Bahkan setiap hari atau minimal sehari dua kali. Bila dihitung jarak tempuh antara Kebakkramat Karanganyar-Pasar Gede Solo mencapai puluhan kilometer. Namun jarak itu tak terlalu dipermasalahkan. Bila berhalangan hadir, selalu saja ada utusannya yang membelikan bebek ke Solo. "Hal itulah yang membuat kami menjadi respek dan menanggap beliau saudara," imbuhnya.
Cerita lain tetang pelanggan Bekgor Sargede Solo sebenarnya masih banyak. Seperti para salesmen produk plastik dari Jakarta. Beberapa salesman ini datang ke Solo untuk mencari pedagang di Pasar Gede. Usai menyelesaikan tugasnya, lalu menginap di hotel dekat Pasar Gede. "Nah malamnya biasanya ''ngiras'' di sini, hingga kami hapal wajah mereka," ungkapnya. 
bebek-solo-goreng-pasar-gede
Menu khas bebek goreng
Birin menuturkan, saat menjalankan usaha kuliner ini, orientasi profit memang menjadi tujuan utama. Tetapi ia tak melupakan unsur kedekatan dengan pelanggan. Pasalnya, dari mulut pedagang ini akan keluar pujian dan mungkin sindirian atas pelayanan di warungnya. Oleh karenanya masukan dari pelanggan dan pembeli ini benar-benar diperhatikan.
"Pelanggan/pembeli adalah raja. Mereka juga bisa menjadi saudara." (*)

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>