Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » » Dari Jual Nasi Aking, Nenek Samiyem Akhirnya bisa Berhaji

Dari Jual Nasi Aking, Nenek Samiyem Akhirnya bisa Berhaji

Posted by WARTO SOLO on Rabu, 10 Agustus 2016



SOLO,wartosolo.com-Kisah kerja keras sosok yang satu ini patut dicontoh. Dari hasil jualan nasi aking selama delapan tahun. Samiyem mampu menambung dan tahun 2016  siap berangkat ke Tanah Suci. Hasil menjual nasi aking selama delapan tahun yakni total Rp 10 juta menyumbang jumlah terbesar dari ongkos haji yang dikeluarkanya.
Samiyem, warga Distrikan RT 05/01 Nusukan, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah tergabung dalam kelompok terbang 16 Kota Surakarta. Pada Senin 15 Agustus 2016 mendatang dia sudah terbang ke Arab Saudi bersama putranya (Sudirno) dan menantunya (Sri Djarwanti).
Seperti kata pepatah, takdir, rejeki, jodoh dan kematian adalah rahasia Illah. Hal itu adalah abadi dan manusia tiada yang berdaya dengan ketentuan Illahi.
Samiyem berkata, tekad bulat untuk bertamu ke rumah Allah ini sudah diniatinya sejak 2006. Saat suaminya wafat, Samiyem terus bekerja keras mengumpulkan duit, dari jual nasi aking, rosok (barang bekas), apapun yang bisa dikerjakan dan dijual. 
nasi-aking-samiyem-haji
Penjual nasi aking
aking-samiyem-haji-nasi
Nasi aking

"Saya delapan tahun menabung dari jualan nasi aking dan rosok. Uang hasil penjualan dicelengi (ditabung). Baru mau setoran dibuka. Totalnya 10 jutaan (Rp 10 juta)," katanya, Rabu 10 Agustus 2016.


 Dibeli Pengepul

Istri Suhadi Hadi Kromo Soemito menuturkan, aktivitas mengumpulkan nasi aking ini kian rajin dilakukanya setelah suaminya itu wafat pada Maret 2016. Kegiatan itu ternyata benar-benar membunuh rasa sepinya. Setiap pagi menjemur nasi aking. Setelah berhari-hari dijemur dan kering lalu dikumpulkan di kaleng biskut dan lalu dimasukan plastik. Usai nasi aking terkumpul banyak, baru dijual ke pengepul yang datang ke rumahnya. 
Beberapa saat kemudian, menantunya Sri Djarwanti mengajak untuk berhaji. Kebetulan menantunya itu sudah mendaftarkan dan bisa diberangkatkan pada 2016.
Gayung pun bersambut, Samiyem yang lahir di Karanganyar 1 Oktober 1937 ini bersedia berhaji, meski tak bisa baca dan menulis. 
 Aktivitas mengumpulkan nasi aking dan menjualnya ke pengepul benar-benar ditekuninya hingga terkumpul uang sampai Rp 10 juta. "Celengan baru dibuka saat mau setoran ke bank. Alhamdulillah terkumpul Rp 10 juta," katanya.
Sementara sisanya yakni Rp 16 juta yang harus disetorkan ke bank. Janda tujuh anak ini lalu menyewakan rumah untuk dikontrakan. Sebelum suaminya meninggal, uang pensiun suaminya dimanfaatkan untuk membangunkan kontrakan.
Menantu Samiyem, Sri Djarwanti mengakui, ibu mertuanya itu setiti (hemat). Uang yang didapat selalu ditabung. Makan secukupnya dan tidak menghambur-hamburkan duit.
Namun demikian, saat ada orang yang membutuhkan bantuan, mertuanya itu ringan tangan.
"Mungkin saj sikap setiti dan ringan tangan inilah yang memudahkan ibu bisa berangkat ke Tanah Suci tahun ini (2016)," katanya. (*/

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>