Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » , » Ketegasan Mantan Wali Kota Seoul

Ketegasan Mantan Wali Kota Seoul

Posted by WARTO SOLO on Jumat, 08 Januari 2016


kota seoul wartosolo.com


WARTOSOLO - 
Biarkan saja Direktur Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Djoko Sasono mundur dari jabatannya. Biarlah, Djoko Sasono dengan lantang mengucapkan mundur karena bentuk tanggungjawab atas kemacetan panjang yang terjadi saat liburan akhir tahun ini di hadapan sejumlah media massa. Silahkan saja khalayak ramai menafsirkan atau menyimpulkan dirjen itu memilih mundur karena menganggap dirinya tak becus menjalankan tugas yang dibebankannya. 
Toh, siapapun tak bisa menggugat pendirian sang dirjen ini untuk mundur. Mau diperdebatkan seperti apa alasannya meletakkan jabatan, larinya tetap pada asumsi dan asumi. Sebab hanya Djoko Sasono dan Tuhan YME yang tahu mengapa takdir itu bisa terjadi. 
Saya yakin pasca-mundurnya itu ada sebuah kehilangan baik, negara yang menggajinya, pimpinannya yang memilihnya, bawahannya yang selama ini mengemban tugas-tugas yang diperintahkannya. 
Ya,  sekali lagi mundurnya Djoko Sasono dari posisinya itu bukan urusan saya. Sebagai rakyat biasa saya hanya bisa menyimaknya saja.
Tetapi bertolak dari keputusan berani seorang pejabat di negeri ini. Ingatan ini terusik untuk mengetik dan menyampaikan tulisan tentang pengalaman baru saya saat berkunjung ke sebuah negara di Asia yang saat ini sedang berbenah menjadi macan di Asia, yakni Korea Selatan (Korsel). 
Di negara penghasil ginseng itu, muncul orang biasa yang kemudian mengguncang jagat ini. Dialah Lee Myung-bak ! 
So, ada urusan apa tiba-tiba saya ''memaksa'' menyelaraskan antara berita tentang mundurnya Djoko Sasono di Indonesia dengan Lee Myung-bak yang posisinya nun jauh di sana ? 
Begini, kedua orang ini adalah pejabat publik. Keduanya sama-sama mempunyai tanggung jawab memberikan pelayanan kepada masyarakat di negara masing-masing. Hal yang sama antara keduanya adalah sama-sama masuk kategori orang yang melek tentang dunia perhubungan dan satu lagi kebetulan keduanya sama-sama mengambil keputusan tegas. Soal  Djoko Sasono sudah di bahas di awal. Lalu bagaimana dengan kisah sosok Lee Myung-bak.
Inilah yang menarik. Seperti yang saya singgung di awal Lee Myung-bak adalah tokoh fenomenal yang pernah dimilik Korsel sekarang ini. Dari pemikiran dan visi misinya yang jauh ke depan telah membuat Kota Seoul dan Korsel lebih maju selangkah dibandingkan negara-negara lainnya seperti yang kita lihat sekarang ini. Pertanyaannya adalah mengapa tokoh ini begitu dipuja dan disegani ? 
Penuturan warga Seoul, semenjak menduduki jabatan sebagai Wali Kota Seoul, Lee Myung-bak telah melakukan gebrakan maha dahsyat. Ia mencanangkan adanya transformasi secara menyeluruh sistem transportasi di Kota Seoul. Dan saya yakin Djoko Sasono mengetahui atau setidaknya mendengar kisah nyata ini. Karena gebrakan yang dilakukan Lee Myung-bak ini jadi perbincangan hangat orang-orang perhubungan di seantero jagad.
Secara frontal angkutan massal bus/subway dari sistem yang konvensional direvolusi dengan sistem modern berbasis komputerisasi dengan pusat di Seoul. Ia menghidupkan kembali Sungai Cheong Gye Chon dari keterpurukan. Serta membangun sebuah fasilitas pemantau lalu lintas melalui program Seoul Transport Operation and Information Service (TOPIS) yang tugasnya mengawasi prilaku orang dan jutaan kendaraan di jalanan, termasuk mengatur punsihment-nya. Hanya membutuhkan waktu 10 tahun, kebijakan yang diambil Lee Myung-bak ini langsung mengubah seketika wajah Seoul yang belepotan karena emisi gas buang, polusi, biangnya macet, dan semrawut menjadi kota yang ramah lingkungan dengan sistem transportasi yang meletakan manusia pada tempatnya (put people first). Waktu sepuluh tahun itu yang dibutuhkan Lee Myung-bak mampu meluluhkan hati orang-orang yang menetang keras kemauannya. Dan lewat waktu sedekade itu pulalah dari sosok yang dibenci, berbalik menjadi pria yang banjir pujian. Sampai kisah happy ending terjadi mengantarnya menduduki tampuk pimpinan sebagai orang nomor satu di Korsel alias menjadi presiden.
Warga Seoul yang menyampaikan pernyataannya bernama Christine, dan saya pun berusaha mengkroscekkan dengan kesaksiakan mantan anak buah Lee Myung-bak yang duduk di staf pemerintah kota dan kecamatan Seoul. Mereka mengakui gebrakkan kepala daerah ini menjadi berkah. Sebuah survei lokal menyebutkan, gebrakan Lee Myung-bak memuaskan 98 persen masyarakat. Akhirnya warga Seoul dan Korsel secara umum menikmati hasl karya  Lee Myung-bak. 

Konsistensi Idealisme  

Nah, keberanian dan konsistensi seorang pejabat dalam mencanangkan sebuah program demi kemaslahatan masyarakat selayaknya jalan terus tanpa memberikan ruang kompromi bagi tantangan dan kendala di lapangan. Walaupun bertahun-tahun ribuan kali adu mulut dengan rakyatnya, dan warganya. Pemimpin harus istiqmah. Tidak boleh bermental tempe. Sebab kebijakan yang sudah diputuskan kelak bakal bermanfaat tidak hanya dalam waktu pendek tapi dari generasi ke generasi. Dan Lee Myung-bak telah berhasil membuktikannya.
Sistem transportasi rancangan Lee Myung-bak bersama orang-orang berkemauan keras dan satu visi, ternyata tak dirasakan oleh warga Seoul dan Korsel saja. Tujuh negara secara tak langsung mendapatkan berkah, walaupun prosesnya lewat impor sistem transportasi. Dan dengar-dengar kota-kota di Indonesia tertarik mengadopsi sistem di Seoul, meskipun baru memasuk tahap penjajakan. 
Kembali ke kisah Lee Myung-bak di Korsel dan  Djoko Sasono di Indonesia. Keputusan tegas keduanya pastilah melahirkan konsekuensi baru. Meski berbeda kasus, alurnya tetap sama yakni upaya pejabat berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan yang terbaik kepada rakyatnya. Bahwa idealisme pejabat bisa digengam dan dilaksanakan sepenuh jiwa maka ia akan berhasil  berada di puncak, seperti kisah Lee Myung-bak. Namun kebalikannya, bila seorang pejabat, publik figur tak bisa menjalankan idealismenya dan pekerjaanya, maka mundur adalah pilihan realistis, contohnya sikap yang diambil Djoko Sasono. Berprestasi adalah bicara tentang hasil akhir. Tetapi mengambil sebuah keputusan tegas dan menjalaninya untuk mencapai goal tertentu hanya bisa dilakukan oleh bervisi ke depan, bukan mereka yang hanya pasrah mengikuti arus. (*/wartosolo.com) 

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>