Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » » Idealnya Sebuah Car Free Day ? Teringat Kejadian di Jalan Mangkubumi Yogyakarta,

Idealnya Sebuah Car Free Day ? Teringat Kejadian di Jalan Mangkubumi Yogyakarta,

Posted by WARTO SOLO on Rabu, 09 September 2015

"Woow nyaris saja sebuah bus pariwisata menabrak peserta marching band di Jalan Mangkubumi Yogyakarta, Minggu 6 September 2015, pukul 09.10 WIB. Meski jam CFD sudah dibuka, namun aktivitas seni hiburan belum berakhir. Sehingga nyaris terjadi insiden senggolan anatar bus dan marchingband anak-anak sekolah."

WARTOSOLO- Dari pengamatan saat itu memang hanya petugas keamanan dari beberapa instansi di sekitar CFD yang berjaga dan mencoba mengatur keluar masuk kendaraan. Tak terlihat petugas dari Dishubkominfo, Linmas atau kepolisian. Entahlah apa memang sejak awal begitu atau tidak. Tapi seharusnya, sebuah aktivitas CFD perlu mendapatkan pengawalan dari pihak yang berwenang, sehingga mereka yang memenfaatkan hari tanpa kendaraan tetap terayomi. Tanpa takut akan diterjang kendaraan yang nyelonong atau nekat menerabas CFD.

idealnya-car-free-day
CFD Solo
Apa sebenarnya CFD itu ? Menurut Iskandar Abubakar dalam bukunya, ''Manajemen Lalu Lintas. Suatu Pendekatan Untuk Mengelola dan Mengendalikan Lalu Lintas'' menyebutkan, CFD adalah kawasan pejalan kaki merupakan tindak lanjut dari program bebas kendaraan yang diberlakukan di kawasan tertentu (hlm 94). Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau dalam bahasa Inggris Car Free Day bertujuan menyosialisasikan kepada masyarakat agar menurunkan ketergantungannya terhadap pemakaian kendaraan bermotor sekaligus mengurangi polusi. Kegiatan ini biasanya didiorong oleh aktivitas yang bergerak dalam lingkungan hidup dan transportasi. Tema penting dari HBKB adalah meninggalkan kendaraan bermotor di rumah dan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan tidak bermotor ataupun menggunakan kendaraan umum untul perjalanan yang relatif jauh (halaman 95).

Oke, dari pengertian itu cukup dimengertilah, dan lalu mengapa CFD  menjadi fenomena baru di kota-kota besar, dan bahkan mulai merambah di kabupaten-kabupaten. Harapan adanya tempat terbuka untuk aktivitas hiburan, olahraga dan berjalan-jalan gratis sudah menjadi kebutuhan dewasa ini sudah direalisasikan. Sedikit demi sedikit pemerintah mengeluarkan kebijakan pro-rakyat tentang penyediaan ruang terbuka di akhir pekan ini dan menyosialisasikan untuk meninggalkan kendaraan bermesin.
Tengoklah Kota Solo, sejak digulirkan beberapa tahun lalu. CFD di sepanjang Jalan Slamet Riyadi (5 km) penuh sesak dikunjungi masyarakat. Sederet pejabat dari atas semacam RI 1 Joko Widodo pernah dua kali jalan-jalan di area terbuka itu. Menteri, artis, dan pejabat tak terhitung jumlahnya dan mereka juga pernah beraktivitas. CFD di Jalan Slamet Riyadi bisa dikatakan T O P dach, dibandingkan kegeiatan sejenis di Indonesia. Ajang ini memang menjadi salah satu ikon Kota Bengawan.
Nah,  hanya saja ada satu PR Pemkot yakni menggiatkan CFD Juanda. Semoga lekas seramai di Jalan Slamet Riyadi. Segera diperbaiki ya !

day-idealnya-car-free
Aktivitas budaya di CFD
Lalu bagaimana dengan kota lain semacam Semarang, Yogyakarta, Bandung dan mungkin Ibuk Kota Jakarta. Di kota-kota besar ini CFD juga disambut antusias, pelanggaran minim, tapi full kreativitas. Hanya saja perlu dikomunikasikan untuk menggiatkan atraksi-atraksi budaya musik, dan komunitas. Mayoritas di tangan merekalah kegiatan CFD bisa aktif seperti di Solo. Perlu diwacanakan dan disiarkan lagi beragam aktivitas di hari tanpa kendaraan itu lewat blog, youtube, facebook dan berbagai macam media sosial lainnya. Sehingga kontrol akan kegiatan CFD terlihat.
Mengapa di Solo begitu ditonjolkan?  Kalkulasi adalah CFD ikut mendongkrak perekonomian kecil menengah warga. Dari semula CFD digulirkan dan hanya 30 PKL yang buka lapak kini pada September 2015 sudah mencapai 507 PKL ! Wow angka yang fantastis dan naiknya sudah ratusan persen !
Lalu tentang kesadaran masyarakat terhadap aktivitas CFD. Tentu saja meningkat pesat. Setiap gang dan persimpangan Jalan Slamet Riyadi minimal ada 2-3 petugas. Tugasnya adalah menghalau pengguna kendaraan yang nekat melintas di CFD. Bahkan setiap pelaksanaan pemilu, kawasan ini dijadikan sasaran partai, calon kepala daerah untuk kampanye. Eiits tunggu dulu, Pemkot Surakarta ternyata sudah melarangnya. Media pun tak segan-segan ''menghabisi'' mereka yang memanfaatkan CFD untuk ajang politik. So, CFD bebas dari ajang politik-politikan. Hal lain yang positip di CFD Solo adalah kebijakan ketat melarang EO dan perusahaan menjajakan dagangan karena bila nekat pasti dibubarkan. Serta larangan masyarakat membagi-bagikan selebaran. Hal ini dilakukan agar sampah yang ditinggalkan pasca-CFD tidak terlalu besar, sehingga petugas kebersihan (DKP) tak dibikin sukses. So, Jayalah CFD. (*/)

day-idealnya-free-car
Sambut Ramadan di CFD

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>