Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » , » Membela Transportasi di Negeri Sendiri

Membela Transportasi di Negeri Sendiri

Posted by WARTO SOLO on Jumat, 14 Agustus 2015



WARTOSOLO- Tulisan ini dibuat untuk menghormati kiprah Eka Sari Lorena. Seluruh materi tulisan ini memang terinspirasi pada buku terbitan beliau berjudul ''Membela Angkutan Umum, Dari Tokol Flores Hingga Bajaj Jakarta'' yang ditulis bersam Haryo Damardono (wartawan Kompas). Sedikit banyak materi dari tulisan ini diambil dari karya beliau. Namun demi memperjuangan transportasi massal di negeri sendiri.

transportasi-negeri-sendiri
Membela transportasi
 Maka tak ada salahnya bila tulisan-tulisan atau artikel tentang transportasi massal terus dikembangkan sebanyak mungkin. Sehingga transportasi massal bisa menjadi raja di negeri sendiri. Ibu Lorena dalam bukunya menyebutkan bahwa tiap era punya kisah tersendiri. Tiap era juga akan mempelihatkan betapa perkembangan peradaban manusia menyingkirkan banyak hal yang tidak lagi sejalan dengan perubahan zaman. Pergantian zaman dan perjalanan waktu memang kerap menghadirkan seleksi alam.
Hal ini tak lain merupakan garangnya apa yang disebut dengan MODERENISASI Ibu Eka mengatakan, moderenisasi jelas tidak terhindarkan pada tiap zaman walau modernisasi juga tergantung ruang dan waktu tertentu. Pada sebuah era, “juara bertahan” jelas tidak ingin begitu saja menyerah “mahkota” kepada “pendatang baru”. Namun sang waktu yang akhirnya memperlihatkan siapa yang mampu bertahan, sebaliknya pihak mana yang tersingkirkan.

Ibu Eka mencontohkan nasib opelet, pada sebuah era, pastilah moda transportasi itu terus dipertahankan dominasinya. Namun,  kenyataannya kendaraan rangka kayu pada kabin penumpangnya itu akhirnya harus menyerahkan “piala bergilir” kepada angkot-angkot yang didesain oleh jepang.
Sisi positifnya, tiap perubahan dalam dunia transportasi publik, suatu perubahan zaman yang ditandai moderenisasi, lebih banyak menghadirkan kebaikan dalam pelayanan angkutan umum.
Namun, bukanlah sungguh indah bila tiap perubahan mampu dijalankan tanpa terlalu banyak gejolak atau dampak negatif ?
Lalu bagaimana dengan nasib para sopir, kru dan orang-orang yang bekerja dibalik transportasi massal itu,Nah, bila itu terjadi, idealnya pemerintah mau menyelenggarakan pelatihan bagi sopir untuk alih profesi. Namun, apakah mau? Padahal, tanpa pelatihan untuk alih profesi, pemerintah justru dapat menyengsarakan para sopir dan juga para pelaku usaha di sektor angkutan umu darat.
Kunci utama untuk minimalkan potensi-potensi yang mendera pihak-pihak terkait angkutan umum darat, dapat dilakukan menyusun cetak biru yang terperinci lengkap dengan time frame yang jelas.
Itulah yang dipikirkan Ibu Eka selama ini *  (*/)


Sumber : Membela Angkutan Umum, Dari Otokol Flores Hingga Bajaj Jakarta, penerbit Buku Kompas 2015, PT Kompas Media Nusantara



SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>