Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » » Makna Lirik Lagu Bis Kota, Godbless

Makna Lirik Lagu Bis Kota, Godbless

Posted by WARTO SOLO on Minggu, 09 Agustus 2015

WARTOSOLO.COM-Konser bertajuk Panggung Sandiwara di Jakarta beberapa waktu lalu mendapatkan aplus dari berbagai pihak. Konser 42 tahun God Bless berkarya tak hanya menggambarkan masih garangnya pentolan awak grup band rock itu. Lagu-lagu yang dibawakannya pun mengingatkan penontonya di lokasi konser atau pemirsa di televisi karena live, akan kehidupan masal lampau dilihat pada saat itu.
Walaupun pada masa sekarang ini di negeri ini perubahan tak kunjung ada meski lagu ini sudah diciptakan sejak 1980-1990 an. Contohnya lagu ''Rumah Kita'' yang menggambarkan dengan masih terlihatnya siklus urbanisasi, ''Bis Kota'' (penyediaan fasilitas transportasi massal negeri in), dan ''Panggung Sandiwara'' (penggambaran kondisi perjalanan negeri dan tokoh serta rakyatnya yang penuh sandiwara) dan lain-lain.
Kali ini penulis ingin mengingatkan kembali salah satu lagu yang dinyanyikan God Bless dalam rangka HUT sebuah lembaga penyiaran negeri itu. Lagu ''Bis Kota''. Lirik lagunya yang begitu kuat dan menggambarkan kondisi masyarakat kecil saat itu, dan bila dicermati memang begitu menyentuh. Berikut ini lirik lagunya :

Kulari mengejar laju bis kotaBelomba-lomba saling berebutanTuk sekedar, mendapat tempat di sana
Kucari dan terus kucari-cariNamun semua kursi telah terisi
Dan akhirnya akupun harus berdiriBercampur dengan peluh semua orangDan bermacam aroma
Bikin kupusing kepala
Reff: Serba salah, nafasku terasa sesakBerimpitan berdesakkan,
bergantunganMemang susah, jadi orang yang tak punyaKemanapun naik bis kota.




lirik-bis-kota
Berebut naik bus
Lagu yang dinyanyikan Ahmad Albar dan diciptakan Teddy Sujaya - Tantowi (wikipedia.org) ini menggambarkan bagaimana angkutan massal bus tetap menjadi primadona. Pelayanan yang jelek, kadang bus mogok dan berdesak-desakan menjadi nomor sekian. Karena rakyat terlanjur bergantung pada moda ini. Tergambar pula, bagaimana masyarakat harus berlomba-lomba mendapatkan jasa fasilitas umum, bus. Tak cukup hanya mengantre saja. Mereka harus berlari-lari, berlomba mendapatkan bus. Sekalinya bisa naik bus, mereka juga harus berebut tempat duduk. Bagi yang kebagian tempat duduk, akan mendapatkan kenyamanan karena tak perlu berdesak-desakan dan bisa sekadar menyandarkan pinggang. Tapi bagi yang berdiri, jelas saling dempet dengan berbagai bau dan aroma yang harus dihirup. Begitulah susahnya hanya sekadar naik bus. Begitulah susahnya menjadi orang tidak punya. Bepergian pun harus berlomba.
Apakah sekarang ini kondisi semacam itu masih ditemui ? Bisa iya, dan bisa tidak.
Di Kota besar seperti Jakarta, sarana bus yang dulunya dikenal kopaja, angkot pada jurusan tertentu masih diburu. Namun dengan dibangunnya fasilitas seperti bus way, kini masyarakat mulai mengalihkan perhatian kepada transportasi massal ini. Dari sejumlah pemberitaan yan tersiar, transportasi massal seperti bus way menjadi sarana angkutan umum yang amat dibutuhkan di kota besar. Di setiap jam sibuk, di setiap halte pasti di penuhi calon penumpang. Berbicara dengan kasus yang ada di kota besar. Kini tinggal pemerintah mengoptimalkan keberadaan dan pelayanan transportasi massal karena setiap hari memang dibutuhkan. Ganti alat transportasi massal yang usang, bobrok tak layak dijalankan dengan moda yang terbaru dan lebih nyaman.
Lalu bagaimana dengan di daerah yang saran transportasi massal sedang mati suri ? Ini menjadi pekerjaan berat. Sudah saatnya kendaraan pribadi dialihkan ke kedaraan umum, bagaimanapun caranya. Lewat angkutan massal inilah potensi kemacetan karena padatnya kendaraan bisa dikurangi. Negeri maju sudah hampir seabad memperjuangkan transportasi massal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Bagaimana dengan negeri ini. Ini menjadi PR bersama ?
Pemerintah dan masyarakat harus bisa bersama menciptakan sarana transportasi massal yang lebih baik lagi. Sehingga anak cucu ke depan tak merasakan apa yang pernah dinyanyikan Ahmad Albar dengan lagunya tentang ''Bis Kota'' tersebut. 

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>