Hukum Kriminal    Inspirasi    Kesehatan    Ekonomi    Wisata    Komunitas    Pendidikan    Kuliner    News    Peta Situs   
Home » » DAS Bengawan Solo Masihkah Nyaman sebagai Sarang Ular Piton ?

DAS Bengawan Solo Masihkah Nyaman sebagai Sarang Ular Piton ?

Posted by WARTO SOLO on Selasa, 28 Juli 2015


SOLO,wartosolo.com-Aliran Bengawan Solo menjadi habitat paling nyaman bagi ular piton atau reticulatus phyton. Sungai terpanjang di Solo itu menyediakan sarang dan santapan lezat berupa buruan bagi hewan melata tersebut. Namun, akhir-akhir pada dasawarsa kedua ini sungai yang membelah pulau Jawa Tengah dan Jawa Timur nampaknya sudah tidak nyaman lagi dihuni hewan berjenis reptil tersebut. Berita terbaru adalah pada Senin, 27 Juli 2015 binatang carnivora itu sudah masuk ke perkampungan untuk mencari mangsa seperti ayam, anjing, kucing, atau tikus. 


ular-das-bengawan-solo
Temuan ular
Seperti ular yang tertangkap warga di RT 01/03 Gajahan Pasarkliwon, Solo, Jawa Tengah. Ular sepanjang lima meter dan kelaparan ini sedang apes karena saat berburu mangsa kepergok warga. Kemunculan ular besar itu jelas menghebohkan warga setempat. Ular yang berburu pada malam hari itu sempat diuber-uber massa. Karena ketakutan sang ular sembunyi ke selokan yang dalam. Warga pun menunggui dan baru keesokan harinya ditangkap dengan mengasapi selokan hingga memaksa ular keluar. 
"Untung saja ular tersebut tidak dibunuh dan diamankan warga. Kasihan sekali kalau sampai dibunuh," katanya Teddy Prabowo, anggota Komunitas Bolo Reptile Solo.

Teddy menduga, ular piton yang masing sangat liar ini keluar sarangnya dari aliran Bengawan Solo. Binatang ini menyisiri sungai-sungai kecil atau selokan hingga tersesat ke perkampungan. Bukti yang menunjukkan bahwa hewan melata ini masih buas adalah saat ia berupaya menjinakkan ular yang disimpan di kandang milik warga.
"Tadi pas saya mengecek kondisi ular, lengan kiri tergigit. Warga yang menonton sempat berteriak, ketakutan. Saya biarkan saja sekalian menunjukkan kepada masyarakat bahwa ular semacam ini tidak beracun meski tergigit. Sekalian memberikan edukasi," tuturnya.
Ya, aksi Teddy memang dianggap nekat, dan bahkan GILA ! bagi sebagian masyarakat. Namun apa yang dilakukannya itu merupakan bagian terkecil risiko berdekatan dengan hewan bersisik itu. Apa yang dilakukannya dengan memegang langsung ular itu juga bagian dari pendidikan, bahwa ada ular yang beracun, ada yang tidak. Dan bagaimana memperlakukannya, dan tidak asal bunuh saja.
solo -ular-das-bengawan
Gigitan ular
"Sakit juga, tai nanti lekas sembuh kok." Apakah kapok ? "Jelas tidak !" katanya sambil tersenyum
Teddy dan seluruh awak komunitasnya,  berharap ular tangkapan warga itu untuk dilindungi. Sambil menunggu pihak yang mau memliharanya ular tersebut sebaiknya diberi makan secukupnya sebagaimana pencinta reptile. "Kalau dilepas nanti malah mati dibunuh," katanya. Ia menduga berkeliarannya ular itu diperkampungan karena ular sedang kelaparan dan mencari makan di sungai dekat kampung tersebut. "Habitat ular dibabat habis. Sawah dan hutan sudah menjadi bangunan sehingga ular tersisih dari ekosistemnya," imbuhnya.(*/)

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 WARTO SOLO. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger
>